Sabtu, 27 September 2014

Bye...

Kabut tebal tak dapat lagi disapu oleh guyuran ajaib Sang hujan.
Semakin tebal dan menyesakkan.
Sadisnya lagi, kabut kini bersarang di hati.
Ruang-ruang yang selalu berisikan tentangmu, juga tak dapat ku lihat jernih.

Semampunya ku telah berusaha tuk lunturkan kabut.
Apa daya, semua hal bertolak belakang dengan inginku.

Aku menyepi hindari kabut, bukan karena ku takut tak dapat bernafas puas.
Namun sesak ini telah menekan kerja otak yang tak dapat positif mencerna maksud.

Aku pergi jauhi kabut, bukan karena aku lemah.
Namun ini cara ku, untuk tetap bertahan kuat.

Kini ku rasa rintikan hujan mengalir di pipi.
Ini bukan tangis, percayalah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar