Malam semakin pekat saat kata yang saya rangkai berharap menimbulkan pemahaman baru.
Komitmen, satu kata yang terlontar saat pertanyaan mengenai hubungan diberikan.
Komitmen yang dibicarakan diawal hubungan akan tidak berarti apa-apa jika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diucapkan. "Aku gak akan nyakitin kamu, aku gak akan selingkuh, aku akan selalu ada untuk kamu, aku ini, aku itu dan aku sebagainya" itu sedikit ucapan komitmen yang sering didengar. Namun wujud dari komitmen itu adalah kebahagiaan. Menurut Fauzan (2013) "kebahagiaan itu bukan di liat dr wajah, tawa, atau senyuman, tapi dari pembawaan #wc".
Membuat orang yang disayang bahagia, tidak memikirkan lagi apa balasan dari yang telah diberikan.
Kadang kita menilai komitmen yang diucap tidak sesuai dengan yang kita lihat. Kita lihat? Itu hanya yang kasat, yang tersirat? Dapatkah dilihat? Hanya dapat dipahami bagi mereka yang peka.
Tak jarang kita juga menghadirkan sosok lama dalam menjalani hubungan, sosok yang hanya mendiktekan satu, dua dan tiga. Sehingganya kita tak dapat menangkap satu, dua, tiga, empat bahkan lima dari sosok baru.
Singkatnya, komitmen yang dibuat bukan semata dijalankan oleh satu pihak, namun dijalankan oleh satu team yang ingin menang. Apapun penilaian orang, tak lepas dari perhatiaannya terhadap kita, jalani yang baik dan dunia akan berkata baik. (ngeong)
Rabu, 21 Agustus 2013
Sabtu, 10 Agustus 2013
Cerita Malam Ini~
Berapa banyak teman mu kini? Berapa banyak teman mu yang dapat membuat mu tertawa bahagia? Berapa banyak teman mu yang dapat kau bawa bersedih ikut dalam duka mu? Berapa orang yang sayang pada mu?
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya dapat membuat koreksi pada diri, dapat menjadi cermin bagi diri.
Apa benar semua orang menyenangi kita? Apa benar semua orang mengagumi kita? Apa benar semua orang menginginkan kita? Bisa saja benar, jika semuanya juga memiliki nilai banding yang tinggi.
Orang yang mencintai kita setidaknya sebanding dengan orang yang membenci kita. Orang yang terkadang selalu menghadirkan canda terkadang juga dapat menyayat luka, dan dibalik orang yang selalu mendukung terdapat orang yang akan menjatuhkan.
Ini tentang kehidupan. Kita dapat saksikan siang dan malam. Kita dapat rasakan panas dan dingin. Kita dapat melihat gelap dan terang. Kita dapat mengetahui yang asli dan yang palsu. Apa saja semuanya memiliki antonim.
Pelajaran yang dipetik, kita tak dapat paksakan selalu siang jika malam akan tetap ada. Kita tak dapat paksakan selalu dingin, jika panas tetap ada. Kita tak dapat memaksakan untuk menyayangi seseorang jika kita tak ingin kehilangan orang yang benar-benar menyayangi. Kita tak dapat memaksakan kesediahan, jika kebahagiaan siap menghapus pilu.
Ketahuilah, untuk memaksakan sesuatu menjadi suatu yang dapat bergerak demi ingin kita, itu adalah hal yang tak mudah. Memaksakan seseorang menjadi cerminan kita, itu pun bukan hal yang mudah.
Dimisalkan A suka makan sayur, B suka makan daging. Ketika mereka makan bersamaan, A meminta B untuk memakan sayur. Tentunya A akan bahagia, B juga kelihatan bahagia. Apa benar yang terlihat menunjukkan isi dalamnya? Benar B bahagia, namun B tidak merasa ikhlas.
Lain cerita jika A dan B sama-sama menikmati makanannya, namun A mencoba makanan B dan begitu pun sebaliknya, tentunya kebahagiaan juga mengalir dengan sendirinya.
Karena untuk bahagia kita tak perlu membayar mahal, memaksakan ingin kita, ataupun merubah dunia untuk mengikuti kita. Namun bahagia itu membiarkan segala hal berjalan dan bekerja sesuai dengan alur dan kemampuannya.
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya dapat membuat koreksi pada diri, dapat menjadi cermin bagi diri.
Apa benar semua orang menyenangi kita? Apa benar semua orang mengagumi kita? Apa benar semua orang menginginkan kita? Bisa saja benar, jika semuanya juga memiliki nilai banding yang tinggi.
Orang yang mencintai kita setidaknya sebanding dengan orang yang membenci kita. Orang yang terkadang selalu menghadirkan canda terkadang juga dapat menyayat luka, dan dibalik orang yang selalu mendukung terdapat orang yang akan menjatuhkan.
Ini tentang kehidupan. Kita dapat saksikan siang dan malam. Kita dapat rasakan panas dan dingin. Kita dapat melihat gelap dan terang. Kita dapat mengetahui yang asli dan yang palsu. Apa saja semuanya memiliki antonim.
Pelajaran yang dipetik, kita tak dapat paksakan selalu siang jika malam akan tetap ada. Kita tak dapat paksakan selalu dingin, jika panas tetap ada. Kita tak dapat memaksakan untuk menyayangi seseorang jika kita tak ingin kehilangan orang yang benar-benar menyayangi. Kita tak dapat memaksakan kesediahan, jika kebahagiaan siap menghapus pilu.
Ketahuilah, untuk memaksakan sesuatu menjadi suatu yang dapat bergerak demi ingin kita, itu adalah hal yang tak mudah. Memaksakan seseorang menjadi cerminan kita, itu pun bukan hal yang mudah.
Dimisalkan A suka makan sayur, B suka makan daging. Ketika mereka makan bersamaan, A meminta B untuk memakan sayur. Tentunya A akan bahagia, B juga kelihatan bahagia. Apa benar yang terlihat menunjukkan isi dalamnya? Benar B bahagia, namun B tidak merasa ikhlas.
Lain cerita jika A dan B sama-sama menikmati makanannya, namun A mencoba makanan B dan begitu pun sebaliknya, tentunya kebahagiaan juga mengalir dengan sendirinya.
Karena untuk bahagia kita tak perlu membayar mahal, memaksakan ingin kita, ataupun merubah dunia untuk mengikuti kita. Namun bahagia itu membiarkan segala hal berjalan dan bekerja sesuai dengan alur dan kemampuannya.
Sepenggal cerita malam ini
Padang, H+3 Idul Fitri 2013
Langganan:
Komentar (Atom)