Minggu, 28 Juli 2013

Kapal Kita~

Hingga saat ini aku masih belum paham mengenai laju kapal yang tak berarah ini, semakin jauh ke tengah laut. Karena dari awal kita menggunakan hati mu dan hati ku sebagai navigasinya. Kini hati mu engkau bawa pergi. Aku masih belum mengerti bagaimana memutar kemudi kapal kita, begitu sulit dan begitu berat. Apa engkau belum terima kabar rindu yang ku kirimkan bersama rintikan ajaib di kala hujan? Aku bahkan tak pernah lupa sekali pun untuk menitipkan rindu, begitu sering dan begitu dalam.

Kini aku kabari engkau mengenai kapal megah kita (dulu).
Kapal kita telah berpenghuni laba-laba yang manis. Berkelambu benang halus sulamannya. Bahkan sesekali ia menertawakan ku yang sepi. Memecah hening yang dalam. Kemudian lari tinggalkan ku (lagi).

Aku telah jauh dari daratan, anginnya pun tak lagi ku kenal, tak seakrab dan tak sedamai dulu.
Airnya seakan tak menerima ku sendiri. Terkadang mereka seakan menghardik ku, menyuruh ku pulang dan tak usah menunggu mu kembali hadir.
Katakan pada ku, semua yang mereka katakan itu salah bukan?

Kamu apa kabar?
Dimana engkau berlabuh?
Lama tak ku dengan tentang mu.
Jika benar engkau tak sanggup hampiri ku disini. Ku putuskan, engkau tak usah menghampiri ku, cukup kau beri tahu engkau dimana. Dan aku yang akan mendatangi mu. Itu takkan sulit.


Minggu, 14 Juli 2013

Kado Penguin untuk Lebah :)

Ku bawa diri ini lama terdiam, memikirkan pelajaran hari sebelumnya, mengingat pengalaman yang pernah terjadi, dan kembali merasakan hari-hari yang terlewati.

Aku baru saja terbebas dari fase remajaku. Suatu hal yang tak mudah dilewati dan suatu perjalanan hidup yang penuh tantangan di depan sana.
Layaknya terbangun dari mimpi, sembari berkata "aku baru saja tertidur".
Sulit untuk menentukan batas pemisah antara fase perkembangan yang satu dengan yang lainnya. Namun hal itu dapat dirasakan, dilihat dan dinilai orang banyak.

Sedari kecil aku memang tak pernah mengakui bahwa aku seorang anak kecil.
Aku seorang pemimpi, aku orang yang kuat, aku bisa sendiri, aku tidak cengeng, aku tak butuh bantuan mereka, itulah kerasnya aku untuk menjadi orang dewasa dikala umur masih belia.

Pedihnya kehidupan telah ku rasakan saat aku mengaku diri ini bukan anak kecil. Di umur ku lima belas tahun, aku sanggup tinggal jauh dari orangtua, aku bisa masak sendiri, dan bahkan aku mencuci baju ku sendiri. Aku rasa orang-orang yang seumuran dengan ku saat itu tak dapat melakukannya. Dan aku rasa mereka tak dapat lepas dari jemari orangtuanya.

Dua puluh tahun tentunya bukan waktu yang singkat, dan tentunya tak sedikit pelajaran hidup yang dapat dipetik. Dengan ikut merasakan dan menyaksikan realita hidup, memberikan cambukan keras yang menyatakan "aku bukan anak kecil lagi".
Untuk terus bertahan hingga sekarang, mereka tidak akan pernah menyangka hidupku sebegitu tak mudahnya.

"Papa, aku ingin handphone baru"
"Ma, jam tangan ku rusak. Belikan yang baru ya Ma".
Hidup ku tak semudah mengadunya mereka pada banker-nya.
Namun, untuk mendapatkan hal yang aku inginkan aku mesti membawa banyak jinjingan ke kampus, hingga aku dijuluki "Miss Tentengan". Aku harus bantu-bantu membuat kue agar kuliah ku tak terhenti. Aku rela tidak tidur semalaman demi menyelesaikan pesanan bros. Dan itu semua tak akan mudah dijalani oleh mereka.

Satu hal yang membuat aku kuat, aku percaya Allah akan membalas semua letih dan usaha ku. Aku tak keluhkan mengapa hidupku begini, dan mengapa mereka seperti itu. Karena seperti inilah bahagiaku.

***

Pelajaran hidup yang tak terbilang harganya. Cerita yang diadaptasi dari realita hidup salah seorang wanita ku. Yang tak dapat ku ungkapkan betapa beruntungnya aku memilikinya. Membuka mata ini, bahwa kerasnya hidupku tak sebanding dengan keras dan pedihnya perjalanan hidup wanita ini. (gn)





Happy birthday to my best supergirl :*
Tetaplah menjadi lebah yang selalu membagikan kemanisan untuk penikmatnya.

Baca, Pahami, dan Tarik Kesimpulannya!

Usai pembahasan panjang mengenai kasih sayang saya yang lalu. Suatu apresiasi yang sangat luar biasa ketika saya diperkenankan untuk mempublikasikan hasil diskusi singkat mengenai definisi kasih sayang dan cinta menurut pemikirannya, dan kemudian diolah menjadi kata-kata versi saya.

Insan mana yang tak kenal dengan dua kata yang tak asing ini? Yaa sayang dan cinta.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengaku memlikinya, mengenal dekat dengannya, dan bahkan membawa sayang dan cinta dalam hubungan yang sakral.

Tak dipungkiri sayang dan cinta memang perlu dan harus diikut sertakan dalam hal apapun. Tidak hanya dalam menjalin hubungan. Bercerita sedikit tentang seseorang yang mengajarkan saya pentingnya ingatan jangka panjang minggu lalu. Ketika saya ditanya, "bagaimana pembahasan global warming pada pelajaran IKD di semester 3 lalu?" dan dengan singkatnya saya menjawab "lupa, gak ingat". Tokoh ini menjelaskan pentingnya mengikut sertakan rasa untuk mempelajari sesuatu. Sebagai contoh jika saat ini kita menanyakan kesan pacaran pertama dengan kakek kita, tentunya beliau masih ingat dengan hal itu ketimbang menanyakan apa kesimpulan dari dialog politik yang baru saja beliau tonton. Apapun yang dikerjakan dengan sayang dan cinta akan melekat lama diingatan. Inilah yang membuat orang sulit melupakan kenangan bersama orang yang disayang dan dicintainya. Karena efek dari sayang dan cinta itu sendiri adalah ingatan jangka panjang.

Kita dapat saja mendefinisikan sayang dan cinta dengan versi yang berbeda namun tetap bermuara pada arah yang sama, yaitu kebahagiaan.

Sayang itu tulus, tak mengharapkan apapun, "bahagiamu cukup bagiku".
Saling menyayangi, tentu selama keduanya berusaha membuat pasangannya bahagia tanpa berfikir apa yang telah pasangannya perbuat untuk kebahagiaannya.
Disitulah pengorbanan menjadi pemeran utama. Jangan pernah berfikir hanya satu yang berkorban, lalu engkau paksakan untuk melabelinya cinta. Sayang itu pengorbanan.

Mencintai itu memiliki. Dan jika saat keduanya diijinkan untuk saling mencintai maka keduanya tidak hanya berkorban tapi juga berjuang. Berjuang mendapatkan cintanya dari jarak, godaan, tekanan. Cinta itu perjuangan.

Itulah perbedaan dari tulus menyayangi dan sungguh-sungguh mencintai. Keadilan tentu terjadi selama kita merasa adil. Itulah ketulusan. Karena jika kita merasa tidak adil, keadilan pun akan tetap terasa tidak adil. Karna adil itu bukan seimbang namun sesuai pada tempatnya.


***

"Saya merasa masih rendah untuk berani mencintai. Berbagai tuntutan ketika kita mencintai terkadang menghadirkan kecewa yang menodai rasa sayang yang tulus. Karena memang keseimbangan itu takkan pernah terjadi saat ini. Rasa cinta pasti hanya setengah. Munafik jika bilang sepenuhnya. Seberapa dalam ku bisa milikimu? Tapi rasa sayang, ku pastikan tulusku, untuk senyum di wajahmu. Oleh karenanya kupilih untuk fokus menyayangimu ketimbang setengah-setengah dalam mencintaimu." paparan dari tokoh yang mendefinisikan kasih sayang dan cinta di atas.

Kita terkadang berpikir dangkal untuk memaksakan cinta, yang kita katakan telah berjuang, namun kita tidak paham akan rasa yang dipendam oleh orang yang kita cintai. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dari senyum bahagianya, mungkin saja itu rasa rendah diri maupun keterpaksaan untuk menjalaninya. Karena sayang dan cinta mempengaruhi ingatan jangka panjang, setidaknya kita tahu bagaimana menjabarkannya, sehingga tak meninggalkan kekecewaan diingatan jangka panjang.(mb-rdn)







Untuk Abang saya yang beberapa waktu lalu telah lulus kompre.
Saya hadiahkan tulisan yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Berharap dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Sabtu, 13 Juli 2013

Jika Sayang, maka (TAK) Harus Memiliki

Dialog pembicaraan panjang lebar via telpon dengan salah seorang tokoh kebanggan saya tadi siang banyak menghadiahkan pemahaman-pemahaman baru yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran pasca telpon berakhir. Saya ingin benar membaginya pada mereka yang ingin mengerti.

Dimulai dengan pertanyaan kepercayaan saya akan adanya surga? Saya menjawab "percaya", namun kemudian menimbulkan kebingungan saat pertanyaan selanjutnya "Apakah Anda pernah melihat surga? Jika tidak, kenapa Anda bisa yakin dengan surga?"
Satu hal yang selama ini saya pegang saat beribadah, saya tidak peduli berapa pun nilai yang saya peroleh dari shalat yang saya laksanakan, saya tidak memperhitungkan berapa nilai dari puasa saya, dan saya tidak mempermasalahkan berapa nilai dari amalan-amalan yang saya kerjakan. Namun saya perlu tahu bahwa semua yang saya lakukan semata untuk melaksakan kewajiban dan saya ikhlas dengan perolehan nilai dari setiap yang saya lakukan, meski nantinya saya tidak mendapatkan surga.

Pembahasan singkat mengenai surga menurut saya, dilanjutkannya dengan mengikutsertakan pembahasan kasih sayang jika diaplikasikan dengan pemahaman saya tentang beribadah.
Sebut saja Dhany tokoh yang saya banggakan ini, Dhany bilang "jika kamu tidak peduli akan perolehan nilai dari perhatian mu pada seseorang, kamu tidak memperhitungkan berapa nilai dari sayang  yang kamu berikan, dan tidak mempermasalahkan berapa nilai dari pengorbanan mu. Tentunya kamu dapat ikhlas jika seseorang yang kamu perlakukan seperti itu nantinya bukan jodoh mu, bahkan ia akan pergi meninggalkan mu. Disini hebatnya kamu menggunakan kedewasaan untuk mengartikan kata kasih sayang." paparnya tenang.

Selama ini saya menentang dengan kalimat yang menyatakan "Jika sayang, tak harus dimiliki". Namun tampaknya saya sekarang sepaham dengan kata-kata ini. Bukankah sayang pada seseorang itu membiarkan ia bahagia dengan caranya tanpa memaksakan ingin kita? Tetap melakukan hal-hal yang biasa dilakukan entah itu perhatian yang over dosis ataupun pengorbanan yang di luar logika, namun tidak memperhitungkan hasil akhir dari semua yang telah dilakukan. Sayang itu, ikut bahagia dikala sesosok makhluk ciptaanNya itu bahagia, karena kita maupun karena orang lain selain kita. Saya rasa itu definisi kasih sayang.

Sayang itu bukan mereka yang meminta balasan dari setiap perhatiannya, meminta upah dari segala kasih sayangnya, ataupun mereka yang tak rela jika pengorbanannya tak berhadiahkan sosok nyata dari seseorang yang digilainya.

Sungguh pemikiran yang dalam, selama ini tak pernah muncul saat saya bingung mencari arti ikhlas, dan saat saya tidak tahu bagaimana aplikasi dari ilmu ikhlas. Namun kini ikhlas yang saya pertanyakan dikemas dengan sesederhana itu. (rdn)

Jumat, 12 Juli 2013

Ramadhan Lalu, Ramadhan Kini.

Ramadhan tahun ini disambut khidmat oleh rintikan rindu dari Sang Penguasa Hujan. Dingin memang, namun ada kehangatan dibalik itu. Tak jauh berbeda dengan hati ini, yang suka cita menyambut Ramadhan.
Selalu ada cerita yang tersirat dari bulan ini. Penantian berbulan-bulan pun terobati dengan hadirnya Ramadhan.

Kenangan~
Ini lagi yang akan ku ceritakan. Tentang hari-hari yang kita lewati tiga tahun belakang.
Susahnya membangunkan mu sahur adalah aktivitas yang menyenagkan, hingga engkau mengangkat telpon dengan suara berat mu. Sahur bersama dengan jarak ratusan kilometer via SMS. Pembahasan acara TV yang menghibur dikala sahur juga ikut menjadi topik kita. Kemudian shalat subuh berjamaah (masih) dengan jarak ratusan kilometer. Dan kita tutup subuh dengan tadarusan yang syahdu via telpon.
Menarik bukan?

Tidak hanya itu, saat adzan berkumandang handphone siap siaga untuk saling mengingatkan, dan segera kita laksanakan shalat bersama. Apalagi hal yang engkau ingat? Benar, kita saling mengirim photo, tak mementingkan judulnya, saat bangun tidurkah, saat usai shalatkah, atau saat hendak pergi tarawih.

Selanjutnya, kita menanti berbuka dengan tangan yang setia di handphone, mengetik cerita ringan tentang persiapan berbuka di tempat masing-masing, hingga adzan maghrib berkumandang.
Malamnya tak lupa kita laksanakan tarawih berjamaah di mesjid dan membawa pulang isi ceramah yang akan kita kemas dalam bentuk tulisan singkat di SMS kemudian kita bahas bersama. Benar-benar Ramadhan yang selalu di nanti.

~***~

Ini telah memasuki hari ke empat pada Ramadhan. Namun terasa tak sama lagi dengan ritual Ramadhan tahun sebelumnya. Walau sedikit canggung, namun yang lalu tak dapat dipaksa untuk hadir kembali. Butuh pembiasaan untuk melewatinya, ini kata-kata bijak yang ku dapat dari salah seorang tokoh kebanggaanku. Kiat sama-sama diam, menikmati Ramadhan dengan cara masing-masing. Namun lirih berdoa semoga kita dapat dipertemukan dalam kesuksesan.


Kamu dimana? Aku dimana? Kita tak sama~

Gelisah hadir lagi, setelah lama tak menyapa. Gelisah akan tak kunjung hadirnya lagi sesosok makhluk ciptaanNya, yang saat ini pikirku tak lepas tentang dirinya.
Kamu dimana? Pertanyaan konyol yang terlontar, aku yakin tak akan ada jawabannya.
Kini aku masih di singgasan ku yang mulai redup tanpa ada cahaya hadir mu.

Sulit ku untuk menerka kejadian fatal apa yang telah terjadi, sehingga tak membawa mu kembali pada nyatanya hari ku. Apa benar kita tak sama? Aku rasa itu bukan jawaban dari cerita ini.

Untuk engkau yang diam-diam pergi tak kembali, aku harap engkau disana baik-baik saja. sebaik sangka mu akan masa depan kita.