Hingga saat ini aku masih belum paham mengenai laju kapal yang tak berarah ini, semakin jauh ke tengah laut. Karena dari awal kita menggunakan hati mu dan hati ku sebagai navigasinya. Kini hati mu engkau bawa pergi. Aku masih belum mengerti bagaimana memutar kemudi kapal kita, begitu sulit dan begitu berat. Apa engkau belum terima kabar rindu yang ku kirimkan bersama rintikan ajaib di kala hujan? Aku bahkan tak pernah lupa sekali pun untuk menitipkan rindu, begitu sering dan begitu dalam.
Kini aku kabari engkau mengenai kapal megah kita (dulu).
Kapal kita telah berpenghuni laba-laba yang manis. Berkelambu benang halus sulamannya. Bahkan sesekali ia menertawakan ku yang sepi. Memecah hening yang dalam. Kemudian lari tinggalkan ku (lagi).
Aku telah jauh dari daratan, anginnya pun tak lagi ku kenal, tak seakrab dan tak sedamai dulu.
Airnya seakan tak menerima ku sendiri. Terkadang mereka seakan menghardik ku, menyuruh ku pulang dan tak usah menunggu mu kembali hadir.
Katakan pada ku, semua yang mereka katakan itu salah bukan?
Kamu apa kabar?
Dimana engkau berlabuh?
Lama tak ku dengan tentang mu.
Jika benar engkau tak sanggup hampiri ku disini. Ku putuskan, engkau tak usah menghampiri ku, cukup kau beri tahu engkau dimana. Dan aku yang akan mendatangi mu. Itu takkan sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar