Dialog pembicaraan panjang lebar via telpon dengan salah seorang tokoh kebanggan saya tadi siang banyak menghadiahkan pemahaman-pemahaman baru yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran pasca telpon berakhir. Saya ingin benar membaginya pada mereka yang ingin mengerti.
Dimulai dengan pertanyaan kepercayaan saya akan adanya surga? Saya menjawab "percaya", namun kemudian menimbulkan kebingungan saat pertanyaan selanjutnya "Apakah Anda pernah melihat surga? Jika tidak, kenapa Anda bisa yakin dengan surga?"
Satu hal yang selama ini saya pegang saat beribadah, saya tidak peduli berapa pun nilai yang saya peroleh dari shalat yang saya laksanakan, saya tidak memperhitungkan berapa nilai dari puasa saya, dan saya tidak mempermasalahkan berapa nilai dari amalan-amalan yang saya kerjakan. Namun saya perlu tahu bahwa semua yang saya lakukan semata untuk melaksakan kewajiban dan saya ikhlas dengan perolehan nilai dari setiap yang saya lakukan, meski nantinya saya tidak mendapatkan surga.
Pembahasan singkat mengenai surga menurut saya, dilanjutkannya dengan mengikutsertakan pembahasan kasih sayang jika diaplikasikan dengan pemahaman saya tentang beribadah.
Sebut saja Dhany tokoh yang saya banggakan ini, Dhany bilang "jika kamu tidak peduli akan perolehan nilai dari perhatian mu pada seseorang, kamu tidak memperhitungkan berapa nilai dari sayang yang kamu berikan, dan tidak mempermasalahkan berapa nilai dari pengorbanan mu. Tentunya kamu dapat ikhlas jika seseorang yang kamu perlakukan seperti itu nantinya bukan jodoh mu, bahkan ia akan pergi meninggalkan mu. Disini hebatnya kamu menggunakan kedewasaan untuk mengartikan kata kasih sayang." paparnya tenang.
Selama ini saya menentang dengan kalimat yang menyatakan "Jika sayang, tak harus dimiliki". Namun tampaknya saya sekarang sepaham dengan kata-kata ini. Bukankah sayang pada seseorang itu membiarkan ia bahagia dengan caranya tanpa memaksakan ingin kita? Tetap melakukan hal-hal yang biasa dilakukan entah itu perhatian yang over dosis ataupun pengorbanan yang di luar logika, namun tidak memperhitungkan hasil akhir dari semua yang telah dilakukan. Sayang itu, ikut bahagia dikala sesosok makhluk ciptaanNya itu bahagia, karena kita maupun karena orang lain selain kita. Saya rasa itu definisi kasih sayang.
Sayang itu bukan mereka yang meminta balasan dari setiap perhatiannya, meminta upah dari segala kasih sayangnya, ataupun mereka yang tak rela jika pengorbanannya tak berhadiahkan sosok nyata dari seseorang yang digilainya.
Sungguh pemikiran yang dalam, selama ini tak pernah muncul saat saya bingung mencari arti ikhlas, dan saat saya tidak tahu bagaimana aplikasi dari ilmu ikhlas. Namun kini ikhlas yang saya pertanyakan dikemas dengan sesederhana itu. (rdn)
good write
BalasHapusalhamdulillah, thanks pak :D
BalasHapuswuiiiiiiiiiihhh :D good
BalasHapus:) thanks umi
BalasHapus