Minggu, 14 Juli 2013

Baca, Pahami, dan Tarik Kesimpulannya!

Usai pembahasan panjang mengenai kasih sayang saya yang lalu. Suatu apresiasi yang sangat luar biasa ketika saya diperkenankan untuk mempublikasikan hasil diskusi singkat mengenai definisi kasih sayang dan cinta menurut pemikirannya, dan kemudian diolah menjadi kata-kata versi saya.

Insan mana yang tak kenal dengan dua kata yang tak asing ini? Yaa sayang dan cinta.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengaku memlikinya, mengenal dekat dengannya, dan bahkan membawa sayang dan cinta dalam hubungan yang sakral.

Tak dipungkiri sayang dan cinta memang perlu dan harus diikut sertakan dalam hal apapun. Tidak hanya dalam menjalin hubungan. Bercerita sedikit tentang seseorang yang mengajarkan saya pentingnya ingatan jangka panjang minggu lalu. Ketika saya ditanya, "bagaimana pembahasan global warming pada pelajaran IKD di semester 3 lalu?" dan dengan singkatnya saya menjawab "lupa, gak ingat". Tokoh ini menjelaskan pentingnya mengikut sertakan rasa untuk mempelajari sesuatu. Sebagai contoh jika saat ini kita menanyakan kesan pacaran pertama dengan kakek kita, tentunya beliau masih ingat dengan hal itu ketimbang menanyakan apa kesimpulan dari dialog politik yang baru saja beliau tonton. Apapun yang dikerjakan dengan sayang dan cinta akan melekat lama diingatan. Inilah yang membuat orang sulit melupakan kenangan bersama orang yang disayang dan dicintainya. Karena efek dari sayang dan cinta itu sendiri adalah ingatan jangka panjang.

Kita dapat saja mendefinisikan sayang dan cinta dengan versi yang berbeda namun tetap bermuara pada arah yang sama, yaitu kebahagiaan.

Sayang itu tulus, tak mengharapkan apapun, "bahagiamu cukup bagiku".
Saling menyayangi, tentu selama keduanya berusaha membuat pasangannya bahagia tanpa berfikir apa yang telah pasangannya perbuat untuk kebahagiaannya.
Disitulah pengorbanan menjadi pemeran utama. Jangan pernah berfikir hanya satu yang berkorban, lalu engkau paksakan untuk melabelinya cinta. Sayang itu pengorbanan.

Mencintai itu memiliki. Dan jika saat keduanya diijinkan untuk saling mencintai maka keduanya tidak hanya berkorban tapi juga berjuang. Berjuang mendapatkan cintanya dari jarak, godaan, tekanan. Cinta itu perjuangan.

Itulah perbedaan dari tulus menyayangi dan sungguh-sungguh mencintai. Keadilan tentu terjadi selama kita merasa adil. Itulah ketulusan. Karena jika kita merasa tidak adil, keadilan pun akan tetap terasa tidak adil. Karna adil itu bukan seimbang namun sesuai pada tempatnya.


***

"Saya merasa masih rendah untuk berani mencintai. Berbagai tuntutan ketika kita mencintai terkadang menghadirkan kecewa yang menodai rasa sayang yang tulus. Karena memang keseimbangan itu takkan pernah terjadi saat ini. Rasa cinta pasti hanya setengah. Munafik jika bilang sepenuhnya. Seberapa dalam ku bisa milikimu? Tapi rasa sayang, ku pastikan tulusku, untuk senyum di wajahmu. Oleh karenanya kupilih untuk fokus menyayangimu ketimbang setengah-setengah dalam mencintaimu." paparan dari tokoh yang mendefinisikan kasih sayang dan cinta di atas.

Kita terkadang berpikir dangkal untuk memaksakan cinta, yang kita katakan telah berjuang, namun kita tidak paham akan rasa yang dipendam oleh orang yang kita cintai. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dari senyum bahagianya, mungkin saja itu rasa rendah diri maupun keterpaksaan untuk menjalaninya. Karena sayang dan cinta mempengaruhi ingatan jangka panjang, setidaknya kita tahu bagaimana menjabarkannya, sehingga tak meninggalkan kekecewaan diingatan jangka panjang.(mb-rdn)







Untuk Abang saya yang beberapa waktu lalu telah lulus kompre.
Saya hadiahkan tulisan yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Berharap dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar