Sabtu, 16 November 2013

Ganti Itu dari Allah

19 December 2011 at 18:18
Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari Anda, kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi apabila Anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapanNya.
"Barang siapa yang Ku ambil kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Ku akan menggantinya dengan surga."
"Barang siapa Ku ambil orang yang dicintainya di dunia tetap mengharapkan ridhaKu niscaya Aku akan menggantinya dengan surga."

Maka, Anda tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang menimpa Anda, sebab yang menentukan semua itu adalah dzat yang memiliki surga balasan, pengganti, dan ganjaran yang besar.

Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu (Q.S Ar Ra'd 24)

Umur dunia ini sangat pendek dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat, lebih baik dan kekal. sehingga barang siapa di dunia mendapat musibah ia akan mendapat kesenangan di akhirat kelak.

Wahai orang-orang yang tertimpa musibah, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang hilang dari kalian. Kalian justru beruntung, karena Allah selalu menurunkan sesuatu kepada para hambaNya dengan surat ketetapan yang disela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu kelembutan.
Maka dari itu, siapa saja yang tertimpa musibah yang hebat, ia harus menghadapinya dengan sabar, mata yang jernih dan pola pikir yang panjang.

dikutip dari buku : Laa Tahzan~Note on Facebook

Rabu, 21 Agustus 2013

Komitmen (LIMA)

Malam semakin pekat saat kata yang saya rangkai berharap menimbulkan pemahaman baru.
Komitmen, satu kata yang terlontar saat pertanyaan mengenai hubungan diberikan.

Komitmen yang dibicarakan diawal hubungan akan tidak berarti apa-apa jika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diucapkan. "Aku gak akan nyakitin kamu, aku gak akan selingkuh, aku akan selalu ada untuk kamu, aku ini, aku itu dan aku sebagainya" itu sedikit ucapan komitmen yang sering didengar. Namun wujud dari komitmen itu adalah kebahagiaan. Menurut Fauzan (2013) "kebahagiaan itu bukan di liat dr wajah, tawa, atau senyuman, tapi dari pembawaan #wc".

Membuat orang yang disayang bahagia, tidak memikirkan lagi apa balasan dari yang telah diberikan.
Kadang kita menilai komitmen yang diucap tidak sesuai dengan yang kita lihat. Kita lihat? Itu hanya yang kasat, yang tersirat? Dapatkah dilihat? Hanya dapat dipahami bagi mereka yang peka.

Tak jarang kita juga menghadirkan sosok lama dalam menjalani hubungan, sosok yang hanya mendiktekan satu, dua dan tiga. Sehingganya kita tak dapat menangkap satu, dua, tiga, empat bahkan lima dari sosok baru.

Singkatnya, komitmen yang dibuat bukan semata dijalankan oleh satu pihak, namun dijalankan oleh satu team yang ingin menang. Apapun penilaian orang, tak lepas dari perhatiaannya terhadap kita, jalani yang baik dan dunia akan berkata baik. (ngeong)

Sabtu, 10 Agustus 2013

Cerita Malam Ini~

Berapa banyak teman mu kini? Berapa banyak teman mu yang dapat membuat mu tertawa bahagia? Berapa banyak teman mu yang dapat kau bawa bersedih ikut dalam duka mu? Berapa orang yang sayang pada mu?
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya dapat membuat koreksi pada diri, dapat menjadi cermin bagi diri.

Apa benar semua orang menyenangi kita? Apa benar semua orang mengagumi kita? Apa benar semua orang menginginkan kita? Bisa saja benar, jika semuanya juga memiliki nilai banding yang tinggi.
Orang yang mencintai kita setidaknya sebanding dengan orang yang membenci kita. Orang yang terkadang selalu menghadirkan canda terkadang juga dapat menyayat luka, dan dibalik orang yang selalu mendukung terdapat orang yang akan menjatuhkan.

Ini tentang kehidupan. Kita dapat saksikan siang dan malam. Kita dapat rasakan panas dan dingin. Kita dapat melihat gelap dan terang. Kita dapat mengetahui yang asli dan yang palsu. Apa saja semuanya memiliki antonim.

Pelajaran yang dipetik, kita tak dapat paksakan selalu siang jika malam akan tetap ada. Kita tak dapat paksakan selalu dingin, jika panas tetap ada. Kita tak dapat memaksakan untuk menyayangi seseorang jika kita tak ingin kehilangan orang yang benar-benar menyayangi. Kita tak dapat memaksakan kesediahan, jika kebahagiaan siap menghapus pilu.


Ketahuilah, untuk memaksakan sesuatu menjadi suatu yang dapat bergerak demi ingin kita, itu adalah hal yang tak mudah. Memaksakan seseorang menjadi cerminan kita, itu pun bukan hal yang mudah.

Dimisalkan A suka makan sayur, B suka makan daging. Ketika mereka makan bersamaan, A meminta B untuk memakan sayur. Tentunya A akan bahagia, B juga kelihatan bahagia. Apa benar yang terlihat menunjukkan isi dalamnya? Benar B bahagia, namun B tidak merasa ikhlas.
Lain cerita jika A dan B sama-sama menikmati makanannya, namun A mencoba makanan B dan begitu pun sebaliknya, tentunya kebahagiaan juga mengalir dengan sendirinya.

Karena untuk bahagia kita tak perlu membayar mahal, memaksakan ingin kita, ataupun merubah dunia untuk mengikuti kita. Namun bahagia itu membiarkan segala hal berjalan dan bekerja sesuai dengan  alur dan kemampuannya.







Sepenggal cerita malam ini
Padang, H+3 Idul Fitri 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Kapal Kita~

Hingga saat ini aku masih belum paham mengenai laju kapal yang tak berarah ini, semakin jauh ke tengah laut. Karena dari awal kita menggunakan hati mu dan hati ku sebagai navigasinya. Kini hati mu engkau bawa pergi. Aku masih belum mengerti bagaimana memutar kemudi kapal kita, begitu sulit dan begitu berat. Apa engkau belum terima kabar rindu yang ku kirimkan bersama rintikan ajaib di kala hujan? Aku bahkan tak pernah lupa sekali pun untuk menitipkan rindu, begitu sering dan begitu dalam.

Kini aku kabari engkau mengenai kapal megah kita (dulu).
Kapal kita telah berpenghuni laba-laba yang manis. Berkelambu benang halus sulamannya. Bahkan sesekali ia menertawakan ku yang sepi. Memecah hening yang dalam. Kemudian lari tinggalkan ku (lagi).

Aku telah jauh dari daratan, anginnya pun tak lagi ku kenal, tak seakrab dan tak sedamai dulu.
Airnya seakan tak menerima ku sendiri. Terkadang mereka seakan menghardik ku, menyuruh ku pulang dan tak usah menunggu mu kembali hadir.
Katakan pada ku, semua yang mereka katakan itu salah bukan?

Kamu apa kabar?
Dimana engkau berlabuh?
Lama tak ku dengan tentang mu.
Jika benar engkau tak sanggup hampiri ku disini. Ku putuskan, engkau tak usah menghampiri ku, cukup kau beri tahu engkau dimana. Dan aku yang akan mendatangi mu. Itu takkan sulit.


Minggu, 14 Juli 2013

Kado Penguin untuk Lebah :)

Ku bawa diri ini lama terdiam, memikirkan pelajaran hari sebelumnya, mengingat pengalaman yang pernah terjadi, dan kembali merasakan hari-hari yang terlewati.

Aku baru saja terbebas dari fase remajaku. Suatu hal yang tak mudah dilewati dan suatu perjalanan hidup yang penuh tantangan di depan sana.
Layaknya terbangun dari mimpi, sembari berkata "aku baru saja tertidur".
Sulit untuk menentukan batas pemisah antara fase perkembangan yang satu dengan yang lainnya. Namun hal itu dapat dirasakan, dilihat dan dinilai orang banyak.

Sedari kecil aku memang tak pernah mengakui bahwa aku seorang anak kecil.
Aku seorang pemimpi, aku orang yang kuat, aku bisa sendiri, aku tidak cengeng, aku tak butuh bantuan mereka, itulah kerasnya aku untuk menjadi orang dewasa dikala umur masih belia.

Pedihnya kehidupan telah ku rasakan saat aku mengaku diri ini bukan anak kecil. Di umur ku lima belas tahun, aku sanggup tinggal jauh dari orangtua, aku bisa masak sendiri, dan bahkan aku mencuci baju ku sendiri. Aku rasa orang-orang yang seumuran dengan ku saat itu tak dapat melakukannya. Dan aku rasa mereka tak dapat lepas dari jemari orangtuanya.

Dua puluh tahun tentunya bukan waktu yang singkat, dan tentunya tak sedikit pelajaran hidup yang dapat dipetik. Dengan ikut merasakan dan menyaksikan realita hidup, memberikan cambukan keras yang menyatakan "aku bukan anak kecil lagi".
Untuk terus bertahan hingga sekarang, mereka tidak akan pernah menyangka hidupku sebegitu tak mudahnya.

"Papa, aku ingin handphone baru"
"Ma, jam tangan ku rusak. Belikan yang baru ya Ma".
Hidup ku tak semudah mengadunya mereka pada banker-nya.
Namun, untuk mendapatkan hal yang aku inginkan aku mesti membawa banyak jinjingan ke kampus, hingga aku dijuluki "Miss Tentengan". Aku harus bantu-bantu membuat kue agar kuliah ku tak terhenti. Aku rela tidak tidur semalaman demi menyelesaikan pesanan bros. Dan itu semua tak akan mudah dijalani oleh mereka.

Satu hal yang membuat aku kuat, aku percaya Allah akan membalas semua letih dan usaha ku. Aku tak keluhkan mengapa hidupku begini, dan mengapa mereka seperti itu. Karena seperti inilah bahagiaku.

***

Pelajaran hidup yang tak terbilang harganya. Cerita yang diadaptasi dari realita hidup salah seorang wanita ku. Yang tak dapat ku ungkapkan betapa beruntungnya aku memilikinya. Membuka mata ini, bahwa kerasnya hidupku tak sebanding dengan keras dan pedihnya perjalanan hidup wanita ini. (gn)





Happy birthday to my best supergirl :*
Tetaplah menjadi lebah yang selalu membagikan kemanisan untuk penikmatnya.

Baca, Pahami, dan Tarik Kesimpulannya!

Usai pembahasan panjang mengenai kasih sayang saya yang lalu. Suatu apresiasi yang sangat luar biasa ketika saya diperkenankan untuk mempublikasikan hasil diskusi singkat mengenai definisi kasih sayang dan cinta menurut pemikirannya, dan kemudian diolah menjadi kata-kata versi saya.

Insan mana yang tak kenal dengan dua kata yang tak asing ini? Yaa sayang dan cinta.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengaku memlikinya, mengenal dekat dengannya, dan bahkan membawa sayang dan cinta dalam hubungan yang sakral.

Tak dipungkiri sayang dan cinta memang perlu dan harus diikut sertakan dalam hal apapun. Tidak hanya dalam menjalin hubungan. Bercerita sedikit tentang seseorang yang mengajarkan saya pentingnya ingatan jangka panjang minggu lalu. Ketika saya ditanya, "bagaimana pembahasan global warming pada pelajaran IKD di semester 3 lalu?" dan dengan singkatnya saya menjawab "lupa, gak ingat". Tokoh ini menjelaskan pentingnya mengikut sertakan rasa untuk mempelajari sesuatu. Sebagai contoh jika saat ini kita menanyakan kesan pacaran pertama dengan kakek kita, tentunya beliau masih ingat dengan hal itu ketimbang menanyakan apa kesimpulan dari dialog politik yang baru saja beliau tonton. Apapun yang dikerjakan dengan sayang dan cinta akan melekat lama diingatan. Inilah yang membuat orang sulit melupakan kenangan bersama orang yang disayang dan dicintainya. Karena efek dari sayang dan cinta itu sendiri adalah ingatan jangka panjang.

Kita dapat saja mendefinisikan sayang dan cinta dengan versi yang berbeda namun tetap bermuara pada arah yang sama, yaitu kebahagiaan.

Sayang itu tulus, tak mengharapkan apapun, "bahagiamu cukup bagiku".
Saling menyayangi, tentu selama keduanya berusaha membuat pasangannya bahagia tanpa berfikir apa yang telah pasangannya perbuat untuk kebahagiaannya.
Disitulah pengorbanan menjadi pemeran utama. Jangan pernah berfikir hanya satu yang berkorban, lalu engkau paksakan untuk melabelinya cinta. Sayang itu pengorbanan.

Mencintai itu memiliki. Dan jika saat keduanya diijinkan untuk saling mencintai maka keduanya tidak hanya berkorban tapi juga berjuang. Berjuang mendapatkan cintanya dari jarak, godaan, tekanan. Cinta itu perjuangan.

Itulah perbedaan dari tulus menyayangi dan sungguh-sungguh mencintai. Keadilan tentu terjadi selama kita merasa adil. Itulah ketulusan. Karena jika kita merasa tidak adil, keadilan pun akan tetap terasa tidak adil. Karna adil itu bukan seimbang namun sesuai pada tempatnya.


***

"Saya merasa masih rendah untuk berani mencintai. Berbagai tuntutan ketika kita mencintai terkadang menghadirkan kecewa yang menodai rasa sayang yang tulus. Karena memang keseimbangan itu takkan pernah terjadi saat ini. Rasa cinta pasti hanya setengah. Munafik jika bilang sepenuhnya. Seberapa dalam ku bisa milikimu? Tapi rasa sayang, ku pastikan tulusku, untuk senyum di wajahmu. Oleh karenanya kupilih untuk fokus menyayangimu ketimbang setengah-setengah dalam mencintaimu." paparan dari tokoh yang mendefinisikan kasih sayang dan cinta di atas.

Kita terkadang berpikir dangkal untuk memaksakan cinta, yang kita katakan telah berjuang, namun kita tidak paham akan rasa yang dipendam oleh orang yang kita cintai. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dari senyum bahagianya, mungkin saja itu rasa rendah diri maupun keterpaksaan untuk menjalaninya. Karena sayang dan cinta mempengaruhi ingatan jangka panjang, setidaknya kita tahu bagaimana menjabarkannya, sehingga tak meninggalkan kekecewaan diingatan jangka panjang.(mb-rdn)







Untuk Abang saya yang beberapa waktu lalu telah lulus kompre.
Saya hadiahkan tulisan yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Berharap dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Sabtu, 13 Juli 2013

Jika Sayang, maka (TAK) Harus Memiliki

Dialog pembicaraan panjang lebar via telpon dengan salah seorang tokoh kebanggan saya tadi siang banyak menghadiahkan pemahaman-pemahaman baru yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran pasca telpon berakhir. Saya ingin benar membaginya pada mereka yang ingin mengerti.

Dimulai dengan pertanyaan kepercayaan saya akan adanya surga? Saya menjawab "percaya", namun kemudian menimbulkan kebingungan saat pertanyaan selanjutnya "Apakah Anda pernah melihat surga? Jika tidak, kenapa Anda bisa yakin dengan surga?"
Satu hal yang selama ini saya pegang saat beribadah, saya tidak peduli berapa pun nilai yang saya peroleh dari shalat yang saya laksanakan, saya tidak memperhitungkan berapa nilai dari puasa saya, dan saya tidak mempermasalahkan berapa nilai dari amalan-amalan yang saya kerjakan. Namun saya perlu tahu bahwa semua yang saya lakukan semata untuk melaksakan kewajiban dan saya ikhlas dengan perolehan nilai dari setiap yang saya lakukan, meski nantinya saya tidak mendapatkan surga.

Pembahasan singkat mengenai surga menurut saya, dilanjutkannya dengan mengikutsertakan pembahasan kasih sayang jika diaplikasikan dengan pemahaman saya tentang beribadah.
Sebut saja Dhany tokoh yang saya banggakan ini, Dhany bilang "jika kamu tidak peduli akan perolehan nilai dari perhatian mu pada seseorang, kamu tidak memperhitungkan berapa nilai dari sayang  yang kamu berikan, dan tidak mempermasalahkan berapa nilai dari pengorbanan mu. Tentunya kamu dapat ikhlas jika seseorang yang kamu perlakukan seperti itu nantinya bukan jodoh mu, bahkan ia akan pergi meninggalkan mu. Disini hebatnya kamu menggunakan kedewasaan untuk mengartikan kata kasih sayang." paparnya tenang.

Selama ini saya menentang dengan kalimat yang menyatakan "Jika sayang, tak harus dimiliki". Namun tampaknya saya sekarang sepaham dengan kata-kata ini. Bukankah sayang pada seseorang itu membiarkan ia bahagia dengan caranya tanpa memaksakan ingin kita? Tetap melakukan hal-hal yang biasa dilakukan entah itu perhatian yang over dosis ataupun pengorbanan yang di luar logika, namun tidak memperhitungkan hasil akhir dari semua yang telah dilakukan. Sayang itu, ikut bahagia dikala sesosok makhluk ciptaanNya itu bahagia, karena kita maupun karena orang lain selain kita. Saya rasa itu definisi kasih sayang.

Sayang itu bukan mereka yang meminta balasan dari setiap perhatiannya, meminta upah dari segala kasih sayangnya, ataupun mereka yang tak rela jika pengorbanannya tak berhadiahkan sosok nyata dari seseorang yang digilainya.

Sungguh pemikiran yang dalam, selama ini tak pernah muncul saat saya bingung mencari arti ikhlas, dan saat saya tidak tahu bagaimana aplikasi dari ilmu ikhlas. Namun kini ikhlas yang saya pertanyakan dikemas dengan sesederhana itu. (rdn)