Tentang sesosok pria tampan jelmaan malaikat yang biasa ku cari namun hanya dapat ku pandangi, aku masih tak percaya jika kita kini saling mengenal.
Memory otak berputar mengingat kembali wajah ramah nan tampan. Astagah, aku ingat kita pernah berada lama dalam satu kelas, engkau yang biasa diam-diam ku pandangi beberapa semester yang lalu bukan? Benar, engkau orangnya.
Pengakuan mu yang sama kau ungkap, mengenai kebiasaan mu semester itu.
Apa? Kau juga diam-diam memperhatikan kebiasaan ku di kelas?
Lucu benar kita, diam-diam memperhatikan, dalam hati ingin menyapa namun kalah dengan kegengsian.
Sekarang aku puas, sosok yang biasa ku buru dalam takjub, kini berada dekat. Sedekat ucap dan kata.
Sulit untuk ku ungkapkan kebahagiaan, tidak hanya tawa mungkin lebih dari itu. Bahagia pun juga sulit untuk digambarkan dalam kata. Aku rasa tak ada kata yang indah yang sanggup lagi untuk menggambarkan semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar