Jurnal hitam semester ini ku baca lagi setelah lama terletak di singgasananya. Berdebu dan sedikit tampak usang. Masih ingat bagaimana ku menulis sulitnya hari dan padatnya tugas resume yang kejar tayang. Sekarang memang kocak jika dibayangkan, sama halnya dengan kenangan.
Aku mungkin orang paling mahir mengenang kenangan yang terkenang. Jika ada mata kuliah ini di semester depan, 6 SKS pun aku sanggup mengerjakannya. Itulah konyolnya aku.
Salah satu mata kuliah favoritku semester lalu, banyak mengajarkanku akan artinya hidupku.
Ku coba untuk melakukan konseling individual pada diri ku. Dimana aku yang menjadi klien, sekaligus menjadi konselornya. Adanya pemahamanku tentang konseling, ku lewatkan dalam pemberian penstrukturan. Mulai ku jelajahi masalah demi masalah yang ku pikir sudah akut di memory otak. Dengan terbuka dan sukarela ku tuangkan cerita ini. Tak lain tak bukan demi terentaskannya penyakit hati ini.
Memang sudah tak hangat lagi untuk diceritakan tampaknya, namun ini belum ku temukan titik terangnya.
Dengan dorongan minimal, ku lanjutkan cerita. Cerita tentang indahnya masa lalu, indahnya aku di masa itu. Saat satu sosok jelmaan malaikat mengisi hati ku.
Tampaknya aku sangat senang di masa itu, benar sekali isi refleksi perasaannya.
Tapi bagi ku, tak ada hal yang lebih indah selain masa depan.
Tentang konfrontasinya hari ku, aku ingin sekali meraih warna di masa depan, namun aku terjebak di masa lalu, bagaimana itu?
Kemudian hadir suasana diam dalam konseling ku. Seketika hening dan timbulnya pemikiran baru. Aku paham tentang sia-sianya itu semua. Namun apa daya ku? Ini aku! Sekarang, timbul mekanisme pertahanan diri dalam diam ku.
Apa aku tidak pernah berpikir untuk tidak terpaku di masa lalu? Ajakan memikirkan yang lain di hati juga kuat tersirat.
Aku ingin bahagia, benar begitu? Benar, teriakku pada penafsiran ini.
Rumuskan tujuanmu, hidup harus di jabarkan. Akan dibahagiakan atau terus disakiti.
Perasaan sadar seketika muncul saat nasehat pedas menusuk kalbu, bangunkan hati kecil yang terasingkan oleh masa lalu.
Harapku, tetap raih dan kejar esok hari. Mengenai kenangan, sampai saat ini belum ada ilmuan yang mahir menciptakan ramuan untuk melupakannya. Hanya saja kita perlu pembiasaan untuk menjalani hari tanpa kenangan dan jalani hari dengan kontrak yang telah disepakati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar