Kamis, 20 Juni 2013

Selamat Pagi Jiwa yang Terabaikan

Mentari telah menampakkan kegagahannya, setelah mendung menemani malam. Pagi ini suara gaduh dari peri-peri kecil masa depan bercerita tentang dewasa mereka nanti. Suara yang familiar ku dengar membangunkan ku dari indahnya alam bawah sadar. Aku masih ingat malam tadi Freud bekerja baik, yang hadirkan sosok penghuni ingatanku.

Sembari tersenyum menatap pagi, ku putar kembali ingatanku tentang kerja Freud tadi malam. Kita bertemu dan hanyut dalam canda yang melebarkan tawa. Kau tampak tampan dan lain dari biasanya. Tidak tahu persis apa yang kita ceritakan, namun ku lihat kemeja putihmu hadirkan ketulusan yang terpendam. Layaknya kau dan aku yang hanya memendam kekaguman, tanpa kata saling berucap.

Cerita mengenai alam bawah sadar, ku ucapkan "Selamat pagi untuk jiwa yang terabaikan".
Seketika kata-kata ini mengundang pertanyaan dan pernyataan yang salah mengenai diriku. Apa benar si galau datang lagi setelah bahagia hadir menyapa? Aku rasa mereka salah, mereka pun tak mengerti dengan kata-kata yang di ujung kalimat awal yang belum ku ucapkan "Aku hadir membawa cinta yang sakti, cinta yang mengalahkan berjuta asa".

Aku rasa, kini engkau masih belum paham akan konyolnya tulisan ku. 
Aku rasa, kini engkau masih belum dapat menafsirkan tulisan ku.
Aku rasa, engkau menilai hati ku konyol.
Aku rasa, engkau juga belum dapat menafsirkan bahasa hati yang tersirat.

Namun kadang terlihat norak dan jauh dari pemikiran sehat, yah beginilah aku. Yang tidak PERRFECT, namun RESPECT. Aku pakai kata-kata mu sebagai pelengkap tulisan ini. 

Ku harap sinyal mu dapat menangkap bahasa hati ku yang tersirat. (ao)

2 komentar:

  1. waaahh ini paling suka, haru bacanya..
    semoga radarnya cepat menemukanmu dan kau dapat dengan cepat sinyal itu..

    BalasHapus