Setiap Ramadhan kita selalu meluangkan waktu untuk tadarusan meski hanya via telpon, karena jarak yang menghukum kita, namun itu bukanlah sebagai penghalang untuk melakukan hal ini. Lucu memang jika orang mendengar kebiasaan kita, namun ini sangat menarik bukan.
Ramadhan tahun lalu, kita tadarusan via telpon lagi. Surat Ar-Rahman, surat favoritku sama-sama kita lantunkan saat tadarus yang syahdu. Saat sahur engkau mendengar, di mesjid dekat rumah mu selalu melantukan surat ini, dan dengan semangatnya engkau mengabari ku. (Aku ingat itu)
Malam
itu sepulang tarwih, kita telah membahas bahwa besok usai shalat subuh
engkau akan menelpon ku, dan kita akan tadarus, namun engkau memberi
tantangan untuk bernyanyi.
Meski sebelumnya aku telah pernah bernyanyi dihadapan mu, aku rasa ini tantangan yang sangat sulit bagi ku. Entahlah, mungkin suara ku yang tak semerdu suaranya saat menyanyikan lagu Naff.
Baik, aku terima tantangan mu, dengan lama berpikir dan lama terdiam. Semalaman aku memikirkan lagu apa yang akan ku nyanyikan.
Esokkan harinya setelah tadarus, engkau menagih janji ku untuk bernyanyi. Dan dengan segala bujuk mu, akhirnya ku bernyanyi, Ini kali kedua aku bernyanyi untukmu. Malu benar rasanya, suara cempreng nan tak sedikit pun merdu melantunkan lagu bahasa asing.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid
I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Lagu ini selalu membuat ku merinding saat mendengarnya, lirik
yang bermakna dalam. Aku bayangkan akulah tokoh utama pada setiap syair
yang dilantunkan. Tak peduli berapa lama menanti, tak peduli kau akan
membalasnya, dan tak peduli seberapa hebat penghancur yang akan
menggoyahkan ku. AKU TAK PEDULI.
Yang aku tahu, aku akan mencintai mu ribuan tahun lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar