Penggalan dialog pada "Perahu Kertas" menyatakan bahwa cinta itu dipilih, bukan memilih. Benar memang, kita tidak dapat memaksakan cinta, kita dapat saja memilih, namun tanpa dipilih, cinta tersebut takkan jadi satu. Kita dapat saja memaksakannya, namun apa itu masih dapat dikatakan cinta.
Masih cerita tentang "Perahu Kertas", aku masih ingat mengenai cerita hidup mu yang sama seperti "Keenan", memilih kuliah atas pilihan orangtua, namun sesungguhnya engkau suka melukis. Aku ingat dulu engkau sering keluhkan ini padaku, sebelum engkau jauh memantapkan pada pilihan orangtua mu. Berat memang jalan yang kau tempuh dengan kepura-puraan mu. Parasmu yang tak jauh kalah tampan dari "Keenan" membuat ku selalu membayangkan mu saat menonton kembali perahu kertas.
Sekarang aku merasa, cerita kita seperti layaknya "Perahu Kertas" engkau tahu?
Dari dulu aku ingin sekali menulis cerita tentang kita, dan dulu aku ingin sekali menjadi penulis handal layaknya "Kugy", memang aku tak sehandal itu, namun untuk menulis kembali kenangan, ingatanku masih cukup baik untuk mengingatnya.
Dan masih pada cerita "Perahu Kertas" aku ingat kata-kata ini saat "Keenan" tak menemukan ide untuk melukis, "kamu harus memiliki satu bintang sebagai sumber inspirasinya" tidak sama persis memang kata-katanya, namun begitulah intinya. Kata-kata ini yang membuatku selalu ingin dan ingin untuk menulis cerita kita, karena menurutku engkau inspirasi yang tepat buat ku.
Kembali pada "cinta itu dipilih, bukan memilih" kali ini hilang semua daya ku untuk memilih, tanpa ada sambutan untuk dipilih. Ku rasa radar ku kurang kuat untuk menemukanmu sekarang. Namun besar harapanku, cerita kita akan benar-benar berakhir seperti layaknya "Perahu Kertas".
Anggap saja kini engkau dan aku sama-sama sedang mencari jati diri, namun pada akhirnya kita kan dipertemukan kembali dengan radar kita yang akan bekerja baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar