Sering aku berkeluh kesah, menceritakan dunia yang tak menarik, dunia yang tak memihak pada ku, dan semua sulitnya hidupku.
Hari-hari ku yang sepi, selalu engkau yang menjadi sasaran untuk mengadu. Meraih handphone, mengetik kata-kata gundah dan mengirimkan padamu, atau menelpon mu hanya untuk menyatakan kini aku sedang bersedih.
Engkau yang selalu ada di saat sulit ku, seketika membuat hati tentram dalam sekejap. Tanpa memperhitungkan berapa waktu mu yang terbuang untuk mendengarkan cerita lama ku yang menggoreskan luka. Cerita basi yang ku ceritakan bahkan kau tak menampakkan wajah bosan ketika aku menceritakan dalam durasi yang lama dan berkali-kali.
Aku ingat saat ku terpuruk dalam duka perpisahan yang berbuah kehilangan. Engkau orang pertama yang ku cari, demi berbagi kesedihan ku. Menggunakan bahu mu, dan membanjiri dengan derasnya air mata. Menanti tangan mu untuk mengusap air mata dan tak sedikitpun penolakan yang ku dengar dari bibir mu atas kecengengan ku.
Kata-kata yang menenangkan dari mu yang selalu membuat ku betah dan terkadang merusak hari mu.
Jahatnya aku yang tak sekali pun pernah berbagi cerita tentang suka cita ku ketika dunia memuji ku, ketika dunia memiliki ku dan ketika cinta menyapa ku. Tak pernah ku raih handphone untuk mengabari mu bahwa aku sedang berbahagia. (Maafkan aku).
Namun kuatnya engkau tanpa mempermasalahkan itu, membiarkan ku bahagia dan ikut berbahagia melihat senyum lepas ku menyapa.
Untuk engkau yang menjadi inspirasi di tulisan ku ini, ku ucapkan terima kasih yang tak terkira, ku hadiahkan pelukan yang tak sebanding dengan hebatnya engkau menyulap hari suram ku menjadi bersinar kembali. Dan tetesan air mata kekaguman atas mu. Semoga engkau selalu menjadi pengobat hati yang pilu, menjadi benteng untuk bertahan rapuhnya aku, dan berharap kebahagian selalu menyertaimu.
Mumuah sayang kalian :*
sayang mumuah juga :*
BalasHapus