Selasa, 17 Desember 2013

Mengemas Diri~

Saya masih terbayang akan mimpi tadi malam, seseorang berbadan tegap dan wajah yang tak dapat saya tangkap jelas sedang menunggu saya berkemas barang di depan pintu rumah. Membuat saya yang bergegas dan cermat untuk mempersiapkan barang yang akan saya bawa untuk perjalanan ini.
Belum jelas perjalanan ke daerah mana, namun tampaknya ini perjalanan yang jauh.

Dan yang tak saya lupakan ialah jawaban saya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang karib "Kamu hendak kemana?". Saya akan "meninggal", dan saya akan mempersiapkan segalanya.
tentunya saya sangat tahu maksud dari "meninggal" yang saya sampaikan. Yaaah meninggalkan dunia.

Perjalanan yang begitu jauh dan membutuhkan bekal yang banyak. Persiapan bertemu Tuhan, apa yang akan saya bawa?

Subhanallah, ini peringatan bagi saya.
Terbangun dari tidur dengan keringat yang begitu luar biasa. Tampaknya begitu nyata akan kehadiran sosok itu.

Sepanjang hari membuat saya membuka mata atas persiapan saya menghadapi kematian. Apa saya akan bertemu Tuhan dengan amal yang tak seberapa?
Dengan kesalahan yang tak terhingga.
Kebaikan apa yang telah saya lakukan selama ini? Dan begitu banyak hal buruk yang saya lakukan.

Memang, siap atau tidak siap hari itu akan tetap ada. Entah kita akan dibawa pergi dalam keadaan yang baik, atau bahkan sebaliknya.

Pelajaran yang saya terima ialah, sesungguhnya sosok berbadan tegap di mimpi yang akan membawa saya bertemu dengan Tuhan selalu ada di dekat saya. namun Tuhan masih memberi kesempatan untuk mengubah diri, berbuat baik dan mempersiapkan kematian dengan matang. Sehingganya saya dapat bertemu denganNya dengan keadaan yang pantas.

Sabtu, 16 November 2013

Ganti Itu dari Allah

19 December 2011 at 18:18
Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari Anda, kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi apabila Anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapanNya.
"Barang siapa yang Ku ambil kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Ku akan menggantinya dengan surga."
"Barang siapa Ku ambil orang yang dicintainya di dunia tetap mengharapkan ridhaKu niscaya Aku akan menggantinya dengan surga."

Maka, Anda tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang menimpa Anda, sebab yang menentukan semua itu adalah dzat yang memiliki surga balasan, pengganti, dan ganjaran yang besar.

Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu (Q.S Ar Ra'd 24)

Umur dunia ini sangat pendek dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat, lebih baik dan kekal. sehingga barang siapa di dunia mendapat musibah ia akan mendapat kesenangan di akhirat kelak.

Wahai orang-orang yang tertimpa musibah, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang hilang dari kalian. Kalian justru beruntung, karena Allah selalu menurunkan sesuatu kepada para hambaNya dengan surat ketetapan yang disela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu kelembutan.
Maka dari itu, siapa saja yang tertimpa musibah yang hebat, ia harus menghadapinya dengan sabar, mata yang jernih dan pola pikir yang panjang.

dikutip dari buku : Laa Tahzan~Note on Facebook

Rabu, 21 Agustus 2013

Komitmen (LIMA)

Malam semakin pekat saat kata yang saya rangkai berharap menimbulkan pemahaman baru.
Komitmen, satu kata yang terlontar saat pertanyaan mengenai hubungan diberikan.

Komitmen yang dibicarakan diawal hubungan akan tidak berarti apa-apa jika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diucapkan. "Aku gak akan nyakitin kamu, aku gak akan selingkuh, aku akan selalu ada untuk kamu, aku ini, aku itu dan aku sebagainya" itu sedikit ucapan komitmen yang sering didengar. Namun wujud dari komitmen itu adalah kebahagiaan. Menurut Fauzan (2013) "kebahagiaan itu bukan di liat dr wajah, tawa, atau senyuman, tapi dari pembawaan #wc".

Membuat orang yang disayang bahagia, tidak memikirkan lagi apa balasan dari yang telah diberikan.
Kadang kita menilai komitmen yang diucap tidak sesuai dengan yang kita lihat. Kita lihat? Itu hanya yang kasat, yang tersirat? Dapatkah dilihat? Hanya dapat dipahami bagi mereka yang peka.

Tak jarang kita juga menghadirkan sosok lama dalam menjalani hubungan, sosok yang hanya mendiktekan satu, dua dan tiga. Sehingganya kita tak dapat menangkap satu, dua, tiga, empat bahkan lima dari sosok baru.

Singkatnya, komitmen yang dibuat bukan semata dijalankan oleh satu pihak, namun dijalankan oleh satu team yang ingin menang. Apapun penilaian orang, tak lepas dari perhatiaannya terhadap kita, jalani yang baik dan dunia akan berkata baik. (ngeong)

Sabtu, 10 Agustus 2013

Cerita Malam Ini~

Berapa banyak teman mu kini? Berapa banyak teman mu yang dapat membuat mu tertawa bahagia? Berapa banyak teman mu yang dapat kau bawa bersedih ikut dalam duka mu? Berapa orang yang sayang pada mu?
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya dapat membuat koreksi pada diri, dapat menjadi cermin bagi diri.

Apa benar semua orang menyenangi kita? Apa benar semua orang mengagumi kita? Apa benar semua orang menginginkan kita? Bisa saja benar, jika semuanya juga memiliki nilai banding yang tinggi.
Orang yang mencintai kita setidaknya sebanding dengan orang yang membenci kita. Orang yang terkadang selalu menghadirkan canda terkadang juga dapat menyayat luka, dan dibalik orang yang selalu mendukung terdapat orang yang akan menjatuhkan.

Ini tentang kehidupan. Kita dapat saksikan siang dan malam. Kita dapat rasakan panas dan dingin. Kita dapat melihat gelap dan terang. Kita dapat mengetahui yang asli dan yang palsu. Apa saja semuanya memiliki antonim.

Pelajaran yang dipetik, kita tak dapat paksakan selalu siang jika malam akan tetap ada. Kita tak dapat paksakan selalu dingin, jika panas tetap ada. Kita tak dapat memaksakan untuk menyayangi seseorang jika kita tak ingin kehilangan orang yang benar-benar menyayangi. Kita tak dapat memaksakan kesediahan, jika kebahagiaan siap menghapus pilu.


Ketahuilah, untuk memaksakan sesuatu menjadi suatu yang dapat bergerak demi ingin kita, itu adalah hal yang tak mudah. Memaksakan seseorang menjadi cerminan kita, itu pun bukan hal yang mudah.

Dimisalkan A suka makan sayur, B suka makan daging. Ketika mereka makan bersamaan, A meminta B untuk memakan sayur. Tentunya A akan bahagia, B juga kelihatan bahagia. Apa benar yang terlihat menunjukkan isi dalamnya? Benar B bahagia, namun B tidak merasa ikhlas.
Lain cerita jika A dan B sama-sama menikmati makanannya, namun A mencoba makanan B dan begitu pun sebaliknya, tentunya kebahagiaan juga mengalir dengan sendirinya.

Karena untuk bahagia kita tak perlu membayar mahal, memaksakan ingin kita, ataupun merubah dunia untuk mengikuti kita. Namun bahagia itu membiarkan segala hal berjalan dan bekerja sesuai dengan  alur dan kemampuannya.







Sepenggal cerita malam ini
Padang, H+3 Idul Fitri 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Kapal Kita~

Hingga saat ini aku masih belum paham mengenai laju kapal yang tak berarah ini, semakin jauh ke tengah laut. Karena dari awal kita menggunakan hati mu dan hati ku sebagai navigasinya. Kini hati mu engkau bawa pergi. Aku masih belum mengerti bagaimana memutar kemudi kapal kita, begitu sulit dan begitu berat. Apa engkau belum terima kabar rindu yang ku kirimkan bersama rintikan ajaib di kala hujan? Aku bahkan tak pernah lupa sekali pun untuk menitipkan rindu, begitu sering dan begitu dalam.

Kini aku kabari engkau mengenai kapal megah kita (dulu).
Kapal kita telah berpenghuni laba-laba yang manis. Berkelambu benang halus sulamannya. Bahkan sesekali ia menertawakan ku yang sepi. Memecah hening yang dalam. Kemudian lari tinggalkan ku (lagi).

Aku telah jauh dari daratan, anginnya pun tak lagi ku kenal, tak seakrab dan tak sedamai dulu.
Airnya seakan tak menerima ku sendiri. Terkadang mereka seakan menghardik ku, menyuruh ku pulang dan tak usah menunggu mu kembali hadir.
Katakan pada ku, semua yang mereka katakan itu salah bukan?

Kamu apa kabar?
Dimana engkau berlabuh?
Lama tak ku dengan tentang mu.
Jika benar engkau tak sanggup hampiri ku disini. Ku putuskan, engkau tak usah menghampiri ku, cukup kau beri tahu engkau dimana. Dan aku yang akan mendatangi mu. Itu takkan sulit.


Minggu, 14 Juli 2013

Kado Penguin untuk Lebah :)

Ku bawa diri ini lama terdiam, memikirkan pelajaran hari sebelumnya, mengingat pengalaman yang pernah terjadi, dan kembali merasakan hari-hari yang terlewati.

Aku baru saja terbebas dari fase remajaku. Suatu hal yang tak mudah dilewati dan suatu perjalanan hidup yang penuh tantangan di depan sana.
Layaknya terbangun dari mimpi, sembari berkata "aku baru saja tertidur".
Sulit untuk menentukan batas pemisah antara fase perkembangan yang satu dengan yang lainnya. Namun hal itu dapat dirasakan, dilihat dan dinilai orang banyak.

Sedari kecil aku memang tak pernah mengakui bahwa aku seorang anak kecil.
Aku seorang pemimpi, aku orang yang kuat, aku bisa sendiri, aku tidak cengeng, aku tak butuh bantuan mereka, itulah kerasnya aku untuk menjadi orang dewasa dikala umur masih belia.

Pedihnya kehidupan telah ku rasakan saat aku mengaku diri ini bukan anak kecil. Di umur ku lima belas tahun, aku sanggup tinggal jauh dari orangtua, aku bisa masak sendiri, dan bahkan aku mencuci baju ku sendiri. Aku rasa orang-orang yang seumuran dengan ku saat itu tak dapat melakukannya. Dan aku rasa mereka tak dapat lepas dari jemari orangtuanya.

Dua puluh tahun tentunya bukan waktu yang singkat, dan tentunya tak sedikit pelajaran hidup yang dapat dipetik. Dengan ikut merasakan dan menyaksikan realita hidup, memberikan cambukan keras yang menyatakan "aku bukan anak kecil lagi".
Untuk terus bertahan hingga sekarang, mereka tidak akan pernah menyangka hidupku sebegitu tak mudahnya.

"Papa, aku ingin handphone baru"
"Ma, jam tangan ku rusak. Belikan yang baru ya Ma".
Hidup ku tak semudah mengadunya mereka pada banker-nya.
Namun, untuk mendapatkan hal yang aku inginkan aku mesti membawa banyak jinjingan ke kampus, hingga aku dijuluki "Miss Tentengan". Aku harus bantu-bantu membuat kue agar kuliah ku tak terhenti. Aku rela tidak tidur semalaman demi menyelesaikan pesanan bros. Dan itu semua tak akan mudah dijalani oleh mereka.

Satu hal yang membuat aku kuat, aku percaya Allah akan membalas semua letih dan usaha ku. Aku tak keluhkan mengapa hidupku begini, dan mengapa mereka seperti itu. Karena seperti inilah bahagiaku.

***

Pelajaran hidup yang tak terbilang harganya. Cerita yang diadaptasi dari realita hidup salah seorang wanita ku. Yang tak dapat ku ungkapkan betapa beruntungnya aku memilikinya. Membuka mata ini, bahwa kerasnya hidupku tak sebanding dengan keras dan pedihnya perjalanan hidup wanita ini. (gn)





Happy birthday to my best supergirl :*
Tetaplah menjadi lebah yang selalu membagikan kemanisan untuk penikmatnya.

Baca, Pahami, dan Tarik Kesimpulannya!

Usai pembahasan panjang mengenai kasih sayang saya yang lalu. Suatu apresiasi yang sangat luar biasa ketika saya diperkenankan untuk mempublikasikan hasil diskusi singkat mengenai definisi kasih sayang dan cinta menurut pemikirannya, dan kemudian diolah menjadi kata-kata versi saya.

Insan mana yang tak kenal dengan dua kata yang tak asing ini? Yaa sayang dan cinta.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengaku memlikinya, mengenal dekat dengannya, dan bahkan membawa sayang dan cinta dalam hubungan yang sakral.

Tak dipungkiri sayang dan cinta memang perlu dan harus diikut sertakan dalam hal apapun. Tidak hanya dalam menjalin hubungan. Bercerita sedikit tentang seseorang yang mengajarkan saya pentingnya ingatan jangka panjang minggu lalu. Ketika saya ditanya, "bagaimana pembahasan global warming pada pelajaran IKD di semester 3 lalu?" dan dengan singkatnya saya menjawab "lupa, gak ingat". Tokoh ini menjelaskan pentingnya mengikut sertakan rasa untuk mempelajari sesuatu. Sebagai contoh jika saat ini kita menanyakan kesan pacaran pertama dengan kakek kita, tentunya beliau masih ingat dengan hal itu ketimbang menanyakan apa kesimpulan dari dialog politik yang baru saja beliau tonton. Apapun yang dikerjakan dengan sayang dan cinta akan melekat lama diingatan. Inilah yang membuat orang sulit melupakan kenangan bersama orang yang disayang dan dicintainya. Karena efek dari sayang dan cinta itu sendiri adalah ingatan jangka panjang.

Kita dapat saja mendefinisikan sayang dan cinta dengan versi yang berbeda namun tetap bermuara pada arah yang sama, yaitu kebahagiaan.

Sayang itu tulus, tak mengharapkan apapun, "bahagiamu cukup bagiku".
Saling menyayangi, tentu selama keduanya berusaha membuat pasangannya bahagia tanpa berfikir apa yang telah pasangannya perbuat untuk kebahagiaannya.
Disitulah pengorbanan menjadi pemeran utama. Jangan pernah berfikir hanya satu yang berkorban, lalu engkau paksakan untuk melabelinya cinta. Sayang itu pengorbanan.

Mencintai itu memiliki. Dan jika saat keduanya diijinkan untuk saling mencintai maka keduanya tidak hanya berkorban tapi juga berjuang. Berjuang mendapatkan cintanya dari jarak, godaan, tekanan. Cinta itu perjuangan.

Itulah perbedaan dari tulus menyayangi dan sungguh-sungguh mencintai. Keadilan tentu terjadi selama kita merasa adil. Itulah ketulusan. Karena jika kita merasa tidak adil, keadilan pun akan tetap terasa tidak adil. Karna adil itu bukan seimbang namun sesuai pada tempatnya.


***

"Saya merasa masih rendah untuk berani mencintai. Berbagai tuntutan ketika kita mencintai terkadang menghadirkan kecewa yang menodai rasa sayang yang tulus. Karena memang keseimbangan itu takkan pernah terjadi saat ini. Rasa cinta pasti hanya setengah. Munafik jika bilang sepenuhnya. Seberapa dalam ku bisa milikimu? Tapi rasa sayang, ku pastikan tulusku, untuk senyum di wajahmu. Oleh karenanya kupilih untuk fokus menyayangimu ketimbang setengah-setengah dalam mencintaimu." paparan dari tokoh yang mendefinisikan kasih sayang dan cinta di atas.

Kita terkadang berpikir dangkal untuk memaksakan cinta, yang kita katakan telah berjuang, namun kita tidak paham akan rasa yang dipendam oleh orang yang kita cintai. Kita tidak tahu apa yang disembunyikan dari senyum bahagianya, mungkin saja itu rasa rendah diri maupun keterpaksaan untuk menjalaninya. Karena sayang dan cinta mempengaruhi ingatan jangka panjang, setidaknya kita tahu bagaimana menjabarkannya, sehingga tak meninggalkan kekecewaan diingatan jangka panjang.(mb-rdn)







Untuk Abang saya yang beberapa waktu lalu telah lulus kompre.
Saya hadiahkan tulisan yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Berharap dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Sabtu, 13 Juli 2013

Jika Sayang, maka (TAK) Harus Memiliki

Dialog pembicaraan panjang lebar via telpon dengan salah seorang tokoh kebanggan saya tadi siang banyak menghadiahkan pemahaman-pemahaman baru yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran pasca telpon berakhir. Saya ingin benar membaginya pada mereka yang ingin mengerti.

Dimulai dengan pertanyaan kepercayaan saya akan adanya surga? Saya menjawab "percaya", namun kemudian menimbulkan kebingungan saat pertanyaan selanjutnya "Apakah Anda pernah melihat surga? Jika tidak, kenapa Anda bisa yakin dengan surga?"
Satu hal yang selama ini saya pegang saat beribadah, saya tidak peduli berapa pun nilai yang saya peroleh dari shalat yang saya laksanakan, saya tidak memperhitungkan berapa nilai dari puasa saya, dan saya tidak mempermasalahkan berapa nilai dari amalan-amalan yang saya kerjakan. Namun saya perlu tahu bahwa semua yang saya lakukan semata untuk melaksakan kewajiban dan saya ikhlas dengan perolehan nilai dari setiap yang saya lakukan, meski nantinya saya tidak mendapatkan surga.

Pembahasan singkat mengenai surga menurut saya, dilanjutkannya dengan mengikutsertakan pembahasan kasih sayang jika diaplikasikan dengan pemahaman saya tentang beribadah.
Sebut saja Dhany tokoh yang saya banggakan ini, Dhany bilang "jika kamu tidak peduli akan perolehan nilai dari perhatian mu pada seseorang, kamu tidak memperhitungkan berapa nilai dari sayang  yang kamu berikan, dan tidak mempermasalahkan berapa nilai dari pengorbanan mu. Tentunya kamu dapat ikhlas jika seseorang yang kamu perlakukan seperti itu nantinya bukan jodoh mu, bahkan ia akan pergi meninggalkan mu. Disini hebatnya kamu menggunakan kedewasaan untuk mengartikan kata kasih sayang." paparnya tenang.

Selama ini saya menentang dengan kalimat yang menyatakan "Jika sayang, tak harus dimiliki". Namun tampaknya saya sekarang sepaham dengan kata-kata ini. Bukankah sayang pada seseorang itu membiarkan ia bahagia dengan caranya tanpa memaksakan ingin kita? Tetap melakukan hal-hal yang biasa dilakukan entah itu perhatian yang over dosis ataupun pengorbanan yang di luar logika, namun tidak memperhitungkan hasil akhir dari semua yang telah dilakukan. Sayang itu, ikut bahagia dikala sesosok makhluk ciptaanNya itu bahagia, karena kita maupun karena orang lain selain kita. Saya rasa itu definisi kasih sayang.

Sayang itu bukan mereka yang meminta balasan dari setiap perhatiannya, meminta upah dari segala kasih sayangnya, ataupun mereka yang tak rela jika pengorbanannya tak berhadiahkan sosok nyata dari seseorang yang digilainya.

Sungguh pemikiran yang dalam, selama ini tak pernah muncul saat saya bingung mencari arti ikhlas, dan saat saya tidak tahu bagaimana aplikasi dari ilmu ikhlas. Namun kini ikhlas yang saya pertanyakan dikemas dengan sesederhana itu. (rdn)

Jumat, 12 Juli 2013

Ramadhan Lalu, Ramadhan Kini.

Ramadhan tahun ini disambut khidmat oleh rintikan rindu dari Sang Penguasa Hujan. Dingin memang, namun ada kehangatan dibalik itu. Tak jauh berbeda dengan hati ini, yang suka cita menyambut Ramadhan.
Selalu ada cerita yang tersirat dari bulan ini. Penantian berbulan-bulan pun terobati dengan hadirnya Ramadhan.

Kenangan~
Ini lagi yang akan ku ceritakan. Tentang hari-hari yang kita lewati tiga tahun belakang.
Susahnya membangunkan mu sahur adalah aktivitas yang menyenagkan, hingga engkau mengangkat telpon dengan suara berat mu. Sahur bersama dengan jarak ratusan kilometer via SMS. Pembahasan acara TV yang menghibur dikala sahur juga ikut menjadi topik kita. Kemudian shalat subuh berjamaah (masih) dengan jarak ratusan kilometer. Dan kita tutup subuh dengan tadarusan yang syahdu via telpon.
Menarik bukan?

Tidak hanya itu, saat adzan berkumandang handphone siap siaga untuk saling mengingatkan, dan segera kita laksanakan shalat bersama. Apalagi hal yang engkau ingat? Benar, kita saling mengirim photo, tak mementingkan judulnya, saat bangun tidurkah, saat usai shalatkah, atau saat hendak pergi tarawih.

Selanjutnya, kita menanti berbuka dengan tangan yang setia di handphone, mengetik cerita ringan tentang persiapan berbuka di tempat masing-masing, hingga adzan maghrib berkumandang.
Malamnya tak lupa kita laksanakan tarawih berjamaah di mesjid dan membawa pulang isi ceramah yang akan kita kemas dalam bentuk tulisan singkat di SMS kemudian kita bahas bersama. Benar-benar Ramadhan yang selalu di nanti.

~***~

Ini telah memasuki hari ke empat pada Ramadhan. Namun terasa tak sama lagi dengan ritual Ramadhan tahun sebelumnya. Walau sedikit canggung, namun yang lalu tak dapat dipaksa untuk hadir kembali. Butuh pembiasaan untuk melewatinya, ini kata-kata bijak yang ku dapat dari salah seorang tokoh kebanggaanku. Kiat sama-sama diam, menikmati Ramadhan dengan cara masing-masing. Namun lirih berdoa semoga kita dapat dipertemukan dalam kesuksesan.


Kamu dimana? Aku dimana? Kita tak sama~

Gelisah hadir lagi, setelah lama tak menyapa. Gelisah akan tak kunjung hadirnya lagi sesosok makhluk ciptaanNya, yang saat ini pikirku tak lepas tentang dirinya.
Kamu dimana? Pertanyaan konyol yang terlontar, aku yakin tak akan ada jawabannya.
Kini aku masih di singgasan ku yang mulai redup tanpa ada cahaya hadir mu.

Sulit ku untuk menerka kejadian fatal apa yang telah terjadi, sehingga tak membawa mu kembali pada nyatanya hari ku. Apa benar kita tak sama? Aku rasa itu bukan jawaban dari cerita ini.

Untuk engkau yang diam-diam pergi tak kembali, aku harap engkau disana baik-baik saja. sebaik sangka mu akan masa depan kita.

Jumat, 28 Juni 2013

Juni Tahun Lalu~

Lantunan lagu Set Fire to The Rain terdengar semangat pagi ini, wangian dari parfum beraromakan green tea juga tak kalah menyambut pagi. Seketika aku terbawa pada kisah singkat bulan Juni tahun lalu.

Pria tampan berkulit putih dengan tinggi kira-kira 180cm yang aku kenal dari salah seorang teman ku, sempat mencuri pandangan ini. Ia hadir menyapa hati yang kosong, membawa sejuta harapan, mengisi hari-hari dengan candaannya yang sederhana, namun damaikan hati.

***

Malam ini aku hendak memberi kejutan pada salah seorang sahabat ku yang berulang tahun.
"Nanti malam ikut ya, kita rayakan ulang tahunnya" ajakan singkat ku.
Dengan senyum dan semangatnya ia menjawab "Baiklah, pagi ini aku akan ke Padang Panjang dulu, setiba aku di Padang kita akan pergi ke rumah teman mu, engkau tunggu aku ya. Aku pasti akan menemani mu, dan jangan pergi tanpa aku". Kini tampangnya berubah memelas, lucu benar melihatnya.
"Engkau baik-baik di jalan ya, aku menunggu mu", balas ku singkat.
"Siap Siskaku" (aku rindu dengan panggilan ini), dengan tawa mu yang merekah.
"Handphone ku low, engkau simpan dulu ya" lanjutnya.
Apalagi ini maksudnya? dalam hati timbul pertanyaan.
 "Lalu nanti aku menghubungi mu dengan apa?" tanyaku yang sedikit  resah.
"Tenang saja, aku yang akan menghubungi mu nanti, pokoknya kita pasti merayakan ulang tahun teman mu, jangan khawatir ya" jawab mu menguatkan ku, dan seketika senyum kita beradu.
Kira-kira pukul 9 engkau berangkat menuju Padang Panjang.


***
Kini jam menunjukkan pukul 1 siang, aku rasa engkau telah tiba sejak tadi, namun belum juga engkau mengabari ku. "Berbaik sangka saja" hibur ku dalam hati.
Sore kira-kira pukul 5 engkau baru mengabari ku dengan mengirim pesan "Aku telah tiba sejak tadi, dan aku baik-baik saja", hati ini mulai tenang kembali.
Aku tanyakan "Engkau berangkat jam berapa ke Padang?".
Dan jawaban mu "Aku belum bisa pastikan, mama dan papa di Padang Panjang sekarang, dan aku tak diperbolehkan pulang, tapi aku pasti tepati janji ku pada mu"
"Astagaaaaah" hati menjerit, dengan kecewa ku balas "Engkau ikuti ingin orang tua mu saja, aku nanti pergi bisa ajak yang lain".
Tak menunggu lama ringtone handphone berbunyi kembali, ini masih pesan darinya "Tidak, aku sudah janji, pasti ku tepati, jam berapa pun aku tiba di Padang, aku akan menemani mu".
Aku tak jawab pesan darinya lagi, hati mulai resah. Aku harus merayakan ulang tahun sahabat ku, namun bagaimana ini? Antara percaya dan tak percaya akan kata-katanya.

***
Sudah pukul 8 sekarang, tak ada kabar lagi darinya. Aku mulai melihat contact di handphone, kira-kira siapa teman yang dapat ku ajak pergi untuk merayakan ulang tahun ini. Namun tiba-tiba handphone berdering, panggilan masuk dari nomor tak ku kenal "Assalamu'alaikum" salam ku menjawab telpon ini, "Waa'alaikum salam, ini aku. Engkau belum pergikan?" Ternyata ini dari Si Dia hahaha tawa kecil ku.
"Aku belum pergi.... tiba-tiba ia memotong pembicaraan "Sabar ya, aku sedang bujuk papa untuk ke Padang, jika sedikit kemalaman, tak masalah kan? Ku mohon tunggu aku dan jangan pergi dengan yang lain". Aku mau jawab apa jika sudah begini, "Baiklah, engkau hati-hati ya. Jangan dipaksakan jika tak bisa". Dan ia kembali menjawab "Aku bisa, nanti ku hubungi lagi. Ini aku telpon dengan handphone papa. Sudah dulu ya, assalamu'alaikum". Iya, engkau baik-baik disana, waa'alaikum salam" aku mengakhiri telpon.

***

Pukul 10 handphone ku berdering lagi, dan ini panggilan dari nomor yang tadi.
"Assalamu'alaikum" ucapku. "Waa'alaikum salam, aku sudah di Sicincin, kira-kira setengah jam lagi aku sampai, engkau yang sabar ya. Nanti ku kabari jika tiba di Padang". Belum sempat aku menjawab, namun engkau telah mengakhirinya dengan "Assalamu'alaikum."  "Waa'alikum salam" jawabku lirih seiring dengan bunyi tuuut tuuut tuuut.

***

Satu jam setelah telpon itu, engkau hadir dengan tampang yang masih semangat, namun letih mu tak dapat kau sembunyikan. Haru dan kagum sekali melihat mu menepati janji.
"Maaf ya, sudah malam. Kita bisa pergi sekarang?" Kini engkau yang bicara langsung dengan senyum yang ramah, di depan pintu.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak ada alasan untuk menunda lagi, dan tak ada alasan juga untuk tak merayakan ulang tahun karib ku. 
"Baiklah, kita pamit dulu ya" ajak ku.

***

Perjalanan ke rumah karib ku ini tak terlalu jauh, kira-kira sepuluh menit dari rumah. Sedan hitam yang berisikan aku, dia, adik ku dan satu teman kami, mengantarkan ke tempat tujuan. Perayaan yang sederhana, namun cukup menyenangkan ikut menambah cerita di ulang tahunnya dan juga cerita untuk ku dan engkau.
Usai perayaan singkat ini, kita melaju pulang karena malam tak muda lagi.
Setiba di rumah, aku ingat sekali canda mu yang khas membahas sedikit tentang perayaan ulang tahun tadi. "Aku masuk ya, makasih udah temani aku" pembicaraan singkat ku di depan pintu. "Sama-sama Siskaku" seketika tawa kita kembali pecah. "Aku balik ke Padang Panjang lagi malam ini, mama papa tak mau nginap di Padang" ucapnya.
"Jadi engkau ke Padang, benar-benar hanya untuk menepati janji mu?" dengan nada yang sedikit meninggi. 
"Aku pamit ya, besok aku ke Padang lagi kok, setiba Padang Panjang aku kabari lagi".
Kali ini tak dapat berucap lagi ketika langkahnya menuju sedan hitam itu.

***

Malam semakin berkuasa, namun tak habis pikir ku tentangnya, bahagia sekali namun iba dengan letihnya kini. Malam ini pasti tidurnya pulas, karena seharian aktivitasnya yang begitu luar biasa. "Goodnight boy" pesan singkat ku ke handphonenya yang telah ku berikan tadi ketika ia akan berangkat.

***

Cerita tentang dia yang kini aku tak tahu bagaimana kabarnya dan aku pun tak tahu keberadaannya. Semoga engkau selalu menang dalam menepati janji, karena aku yakin engkaulah ahlinya. Dan berharap engkau baik-baik saja dimana pun engkau berada. Saat ini aku memikirkanmu. (ns)

Kamis, 27 Juni 2013

I'm with a Thousand Years

Setiap Ramadhan kita selalu meluangkan waktu untuk tadarusan meski hanya via telpon, karena jarak yang menghukum kita, namun itu bukanlah sebagai penghalang untuk melakukan hal ini. Lucu memang jika orang mendengar kebiasaan kita, namun ini sangat menarik bukan. 

Ramadhan tahun lalu, kita tadarusan via telpon lagi. Surat Ar-Rahman, surat favoritku sama-sama kita lantunkan saat tadarus yang syahdu. Saat sahur engkau mendengar, di mesjid dekat rumah mu selalu melantukan surat ini, dan dengan semangatnya engkau mengabari ku. (Aku ingat itu)

Malam itu sepulang tarwih, kita telah membahas bahwa besok usai shalat subuh engkau akan menelpon ku, dan kita akan tadarus, namun engkau memberi tantangan untuk bernyanyi. 
Meski sebelumnya aku telah pernah bernyanyi dihadapan mu, aku rasa ini tantangan yang sangat sulit bagi ku. Entahlah, mungkin suara ku yang tak semerdu suaranya saat menyanyikan lagu Naff.

Baik, aku terima tantangan mu, dengan lama berpikir dan lama terdiam. Semalaman aku memikirkan lagu apa yang akan ku nyanyikan.

Esokkan harinya setelah tadarus, engkau menagih janji ku untuk bernyanyi. Dan dengan segala bujuk mu, akhirnya ku bernyanyi, Ini kali kedua aku bernyanyi untukmu. Malu benar rasanya, suara cempreng nan tak sedikit pun merdu melantunkan lagu bahasa asing.

I have died everyday waiting for you 
Darling don't be afraid 
I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more


Lagu ini selalu membuat ku merinding saat mendengarnya, lirik yang bermakna dalam. Aku bayangkan akulah tokoh utama pada setiap syair yang dilantunkan. Tak peduli berapa lama menanti, tak peduli kau akan membalasnya, dan tak peduli seberapa hebat penghancur yang akan menggoyahkan ku. AKU TAK PEDULI.
Yang aku tahu, aku akan mencintai mu ribuan tahun lagi.

Rabu, 26 Juni 2013

Kutipan Novel Perahu Kertas~


Yang jelas kalo lu ternyata nggak punya feeling sama dia, jangan juga lu gantungin, apalagi ngasih harapan.
- Eko, Perahu Kertas 128

Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda.
- Ojos, Perahu Kertas, halaman 147

Kamu bebas percaya apapun yang kamu mau. Saya nggak bisa mengubah anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa.
- Keenan, Perahu Kertas, halaman 152

Aku nggak butuh maaf kamu. I just want you to love me. Why can't you just love me?
- Wanda, Perahu Kertas, halaman 152

Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda, tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya.
- Keenan, Perahu Kertas, halaman 178

Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya.
- Perahu Kertas, halaman 181

Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu.
- Luhde, Perahu Kertas, halaman 205

Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita.
- Luhde, Perahu Kertas, halaman 206 

Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.
- Luhde, Perahu Kertas, halaman 221 

Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, bukan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara.
- Pak Wayan, Perahu Kertas, halaman 230
 
Dimanapun kamu.. semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu.. aku sangat kehilangan 
kamu.
- Kugy, Perahu Kertas, halaman 232

Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti?
- Kugy, Perahu Kertas, halaman 332

Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi memang ini yang aku mau. Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang.. nggak berubah.
- Kugy, Perahu Kertas, halaman 362

Kita nggak pernah tahu kalau nggak dicoba.
- Kugy, Perahu Kertas, halaman 376

Poyan percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja.
- Pak Wayan, Perahu Kertas, halaman 391

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apapun, oleh siapapun.
- Pak Wayan, Perahu Kertas, halaman 391 

Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.
- Karel, Perahu Kertas, halaman 404

Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.
- Remi, Perahu Kertas, halaman 427

Saya ingin melepas Keenan pergi. Sebelum kita berdua berontak, dan jadi saling benci. Atau bersama-sama cuma karena menghargai.
- Luhde, Perahu Kertas, halaman 429

Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.
- Luhde, Perahu Kertas, halaman 430



SUMBER:
Titis Mawar. 2013. Kutipan Novel Perahu Kertas: http://titismawar.blogspot.com/search/label/about%20Love (diakses 26 Juni 2013)

Wanita-wanita Ku

Rasanya tak adil jika aku hanya menemui di kala hati ini tak tenang, di kala perasaan gundah, di kala air mata mengalir, dan di kala aku tak bahagia dengan hari ku.
Sering aku berkeluh kesah, menceritakan dunia yang tak menarik, dunia yang tak memihak pada ku, dan semua sulitnya hidupku.

Hari-hari ku yang sepi, selalu engkau yang menjadi sasaran untuk mengadu. Meraih handphone, mengetik kata-kata gundah dan mengirimkan padamu, atau menelpon mu hanya untuk menyatakan kini aku sedang bersedih.

Engkau yang selalu ada di saat sulit ku, seketika membuat hati tentram dalam sekejap. Tanpa memperhitungkan berapa waktu mu yang terbuang untuk mendengarkan cerita lama ku yang menggoreskan luka. Cerita basi yang ku ceritakan bahkan kau tak menampakkan wajah bosan ketika aku menceritakan dalam durasi yang lama dan berkali-kali.

Aku ingat saat ku terpuruk dalam duka perpisahan yang berbuah kehilangan. Engkau orang pertama yang ku cari, demi berbagi kesedihan ku. Menggunakan bahu mu, dan membanjiri dengan derasnya air mata. Menanti tangan mu untuk mengusap air mata dan tak sedikitpun penolakan yang ku dengar dari bibir mu atas kecengengan ku.

Kata-kata yang menenangkan dari mu yang selalu membuat ku betah dan terkadang merusak hari mu.
Jahatnya aku yang tak sekali pun pernah berbagi cerita tentang suka cita ku ketika dunia memuji ku, ketika dunia memiliki ku dan ketika cinta menyapa ku. Tak pernah ku raih handphone untuk mengabari mu bahwa aku sedang berbahagia. (Maafkan aku).
Namun kuatnya engkau tanpa mempermasalahkan itu, membiarkan ku bahagia dan ikut berbahagia melihat senyum lepas ku menyapa.

Untuk engkau yang menjadi inspirasi di tulisan ku ini, ku ucapkan terima kasih yang tak terkira, ku hadiahkan pelukan yang tak sebanding dengan hebatnya engkau menyulap hari suram ku menjadi bersinar kembali. Dan tetesan air mata kekaguman atas mu. Semoga engkau selalu menjadi pengobat hati yang pilu, menjadi benteng untuk bertahan rapuhnya aku, dan berharap kebahagian selalu menyertaimu.




Mumuah sayang kalian :* 

Kisah Lalu~Nyanyian Alam

Damainya hati menyaksikkan suguhan alam yang mempesona. Rintikan yang mengabarkan rindu, dan nyanyian alam yang bergemuruh.
Tak sedikit insan yang selalu menanti hadirnya. Banyak cerita yang terkenang di kala hujan menyapa bumi. Seperti aku yang tak mau kalah melagakkan kisah ku.
Hadirnya yang sesaat namun meninggalkan kenangan yang dalam.

Untuk mu kini yang terpisah oleh jarak ratusan kilometer dari ku, ku titipkan rindu pada setiap rintikan hujan yang turun. Menyebut nama mu dalam hening, dan menantimu dalam cita.

Aku ingat saat  pertama kali engkau menyanyikan lagu cinta sepulang sekolah, dan hujan pun tersenyum mendengarnya seraya mengikuti kata cinta yang terucap.
Seragam sekolah nan kuyup mengantarkan ku pulang bersama rindu yang kini ku rasa.
Rindu menikmati sekawanan rintikan yang syahdu, penyejuk hati yang pilu.
 Menari bersama dibawah damainya hujan, dan tawa yang ikut melebur bersama hujan.

"Hadirnya yang sesaat namun meninggalkan kenangan yang dalam". Itulah sosok mu sekarang.
Ada namun tak ada. Nyata namun tak nyata. Sulit mengartikannya, namun begitulah rumit rindu yang ku rundung kini.

Tetaplah semangat menjalani harimu di kota bisu saksi kisah kita dulu~Pekanbaru.



Meski tak seindah yang kau mau
Tak sesempurna cinta, yang semestinya
Namun aku mencintai mu 
Sungguh... mencintai mu

Selasa, 25 Juni 2013

Konfrontasi Hati

Untuk engkau yang kini menjadi aktor utama dalam mimpi dan nyata ku. Ku ucapkan selamat datang dalam hati dan pikiran ku.
Kau dan aku yang dipertemukan dengan teka-teki dan kekaguman. Kini aku merasakan ada konfrontasi hati yang terjadi pada ku. Bahagia sepenuhnya namun bimbang dalam ragu. Ragu akan kebenaran sikapku.

Aku wanita bijak yang menentang hal tabu ini dalam lingkungan ku, namun kini aku terjebak dalam ketabuan. Benak dan hati ku kini tampaknya tak seiring lagi. Yang aku pikirkan tak sejalan dengan inginku. Banyak pertentangan yang aku rasa di beberapa hari ini.
Kesuka citaan ku akan nyatanya aktor ini, dan duka ku yang menyatu dengan ketabuan.

Jika ada cerita tentang Si Pemain Hati bersanding dengan Si Penjaga Hati, apakah ini masih dapat dibiarkan berjodoh?
Nah ini yang membuat hati menjadi konfrontasi. Namun apa ini tidak disayangkan jika terjadi?

Aku memang terkenal egois, memaksakan hal gilaku terwujud tanpa ijin yang resmi.
Dan aku orang yang bersikeras menolak jika benar mereka katakan jodoh itu seperti cerita Si Pemain Hati dan Si Penjaga Hati.

Aku menyalahkan tingkah ku kini yang dianggap tak lazim dan keluar dari koridornya, namun biarkan ini berlanjut sebentar saja, untuk obati keegoisan ku yang lama terpuruk dalam cerita perpisahan yang beku.

HATI

Cerita tentang hati memang tidak ada matinya.
Cerita tentang hati selalu hadirkan emosi.
Emosi dari mereka yang menikmati.

Tentang dia yang menanti, aku rasa ini masih perkara hati.
Menanti hadirnya penguasa hati.
Namun terkadang bahasa hati tak semua insan dapat memahami.
Memahami tentang ada dan tidak adanya rasa.

Aku ingat persis bagaimana sulitnya menanti, menanti sosok hampa tak berasa, beberapa  waktu yang lalu.
Sulitnya memahami, sama halnya dengan sulit mengungkapkan rasa yang lama terdiam.

Bingung Judul Apa!

Tentang sesosok pria tampan jelmaan malaikat yang biasa ku cari namun hanya dapat ku pandangi, aku masih tak percaya jika kita kini saling mengenal.
Memory otak berputar mengingat kembali wajah ramah nan tampan. Astagah, aku ingat kita pernah berada lama dalam satu kelas, engkau yang biasa diam-diam ku pandangi beberapa semester yang lalu bukan? Benar, engkau orangnya.
Pengakuan mu yang sama kau ungkap, mengenai kebiasaan mu semester itu.
Apa? Kau juga diam-diam memperhatikan kebiasaan ku di kelas?
Lucu benar kita, diam-diam memperhatikan, dalam hati ingin menyapa namun kalah dengan kegengsian.
Sekarang aku puas, sosok yang biasa ku buru dalam takjub, kini berada dekat. Sedekat ucap dan kata.
Sulit untuk ku ungkapkan kebahagiaan, tidak hanya tawa mungkin lebih dari itu. Bahagia pun juga sulit untuk digambarkan dalam kata. Aku rasa tak ada kata yang indah yang sanggup lagi untuk menggambarkan semuanya.


Senin, 24 Juni 2013

IV

Hari-hari kita sekarang penuh dengan warna, aku saja tidak hanya pink, namun bercampur hijau. Itu warna kesukaanmu bukan? Lucu benar kita, selalu membeli barang dengan warna handalan masing-masing. Pena jempol warna hijau, dan pena telunjuk warna pink. Ini yang selalu membuat kita hanyut dalam tawa.

Minggu-minggu kita tak lagi sepi seperti minggu-minggu yang lalu. Sabtu menjadi hari yang sakral. Aku selalu menghitung Sabtu ke Sabtu setiap minggunya. Tanpa melupakan kebiasaanku sekarang. Aku makin semangat menulis hari-hari dengan mu. Menulis kegiatan kita sehari-hari.
Setelah ujian kenaikan kelas, liburan pun kita lewati bersama, di awali mengunjungi salah satu kota di luar Sumbar. Namun tak seperti yang kita bayangkan, liburan kita terkekang oleh waktu yang memaksa untuk kita tak selalu bersama. Dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sepulang dari kota itu jangan khawatir karena kita kembali bebas memutar waktu bersama. Bahagia benar kita.
Ditambah lagi sekarang engkau telah dapat membaur dengan keluarga ku. Dan sambutan yang baik untuk menerima hubungan kita.

Bulan-bulan kita terlewati penuh bintang, bintang yang memberi sinar untuk kau dan aku. Setiap bulannya kita selalu merayakan hari jadi kita dengan mengunjungi tempat favorit kau dan aku bukan? Benar sekali, tempat sakral itu. Sekarang engkau juga mulai tertarik untuk ikut mengumpulkan kertas kecil bukti pembayaran, yang awalnya kau bilang aneh. Lucunya kau dan aku saat rebutan bukti pembayaran jika hari itu bertepatan dengan hari jadi kita. Kau bahkan tak mau kalah untuk memberikan bukti pembayaran itu pada ku bukan? Sekarang engkau yang ikutan aneh.

Setengah tahun kita bersama, bulan ini bertepatan dengan bulan kelahiran ku. Semakin seru dan semakin cinta. Aku rasa begitu, dan kau juga.
Makin banyak pengalaman yang kita lalui, dan bulan ini penuh kejutan bagi engkau dan aku.
Awal bulan, pada tanggal kelahiran ku yang juga bertepatan hari jadi kita. Kita akan rayakan ulang tahun ku berdua, siang ini seperti biasanya engkau menunggu di tepi jalan, tempat biasa kau menunggu jika kita hendak pergi, dan bersama kita handalkan armada kita.

“Wah ada tempat baru, kita kesana ya” pinta ku.
Setiba disana, tempat ini begitu ramai, aku rasa karena tempat ini baru.
“Engkau yang cari tempat duduk, biar aku yang memesan ya”. Pembagian tugas yang adil aku kira, karena engkau takut membawa makanan dengan baki. Lucu benar.
Setelah melewati antrian panjang, dan ini hampir giliran ku. Namun dari atas tangga engkau memberi senyum manis dan menghampiri ku.
“Bagaimana? Ada tempat untuk kita?” Tanyaku
“Ada, tapi aku tak suka tempatnya, kita ke tempat biasa saja ya” Dengan wajah memelas.
Astagaaaaaaah, satu orang setelah ini, giliranku.

Aku ikuti mau mu, karena tidak ada alasan untuk menolak ke tempat sakral kita. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, namun kau masih sibuk membujukku untuk berbicara.
Setiba kita di tempat itu, aku langsung memesan makanan dan meminta engkau duduk di pojokan kanan, sayangnya bukan tempat yang biasa kita tempati. Aku masih kesal dengan kejadian tadi, setelah memesan makanan dan duduk bersebelahan, engkau senyum-senyum dan masih saja membujukku dengan manja.

Dari belakang, terdengar kehebohan diiringi nyanyian “Happy Birthday”. Apa ini? Aku tak mengerti, sungguh kerjasama yang cantik, sehingga tak sedikit pun aku curiga bahwa ini acara yang sudah direncanakan dengan mereka tersayang. Haru dan bahagia rasanya. Sungguh aku tak menyangka sama sekali dengan hal ini.

Usai tiup lilin dan pemberian kotak kecil berbungkus pink dari sahabat tersayang, kita lanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Apalagi ini, Aca selesai operasi dan sekarang masih dirawat. Aku kira ini masih skenario, ternyata benar. Sekarang ulang tahun ku di rayakan di rumah sakit juga.
Baru kali ini pengalaman merayakan ulang tahun di rumah sakit. Tak lama setelah tiup lilin, sepasang kekasih yang juga karib kita, menyampari rumah sakit dan ikut merayakan hari ini.

Dan ini belum selesai, perjalanan kembali dilanjutkan. Kini engkau kabulkan pinta ku untuk merayakan ulang tahun di tempat baru itu.
Setelah lumayan lama menikmati tempat ini, kau bilang hendak ke bawah, karena ada yang ketinggalan. Ketinggalan untuk membawa Si Pink yang lucu, yang hampir sama besarnya denganmu. Dan kau memberi nama Si Pink cantik ini dengan Copu.

Terimakasih untuk setengah tahun kita, dan terkhusus untuk hari bahagia ini sayang :)

Sabtu, 22 Juni 2013

III

Selamat datang di indahnya kisah kita sayang. Kisah yang telah lama kita impikan, akhirnya terwujud dengan kerasnya ingin kita. Namun satu hal yang yang harus kita ingat, akan banyak ujian di depan sana yang siap mengajukan soal-soal sulit, belum lagi kata-kata pedas yang akan menilai ujian kita. Tapi itu akan kita lewati berdua bukan? Yaaa aku dan kamu.

*Satu hari setelah Sabtu yang sakral, kita dihadiahkan dengan ujian kenaikan kelas yang akan kita hadapi esok harinya. Bahagia yang tak terkira membuat kita hanyut bersama indahnya hari, hari Minggu ini kita akan bertemu kembali dengan wanita non muslim namun sangat antusias dengan hubungan kita. Kita akan bertemu kembali di tempat sakral, tempat yang kini menjadi saksi kebahagiaan kita. Kau dan aku dapat saksikan kebahagiaan dari paras wanita itu bukan? Wanita itu merasa mimpinya terwujud. Senyum kita sama-sama merekah, dan kini kau kenalkan aku sebagai kekasih mu, betapa bahagianya kita saat itu.
Usai pertemuan singkat dengan wanita cantik ini, kita putuskan untuk pulang ke rumah, dan tak lupakan persiapkan diri untuk esok hari.

**Mulai hari ini kebiasaan ku bertambah, menunggu mu di depan gang, setelah kau memberi aba-aba, dan kita akan menumpangi angkutan umum yang sama ke sekolah. Romantis bukaaaaan?
Tentu, karena sekarang kau dan aku adalah kita.
Benar-benar hadiah yang menakjubkan di hari pertama ujian. Saat memasuki gerbang sekolah, semua mata tertuju pada kita yang melebarkan senyum kebahagiaan. Terdengar ucapan selamat dari bentuk kebahagian mereka atas kita yang silih berganti.
Aku tak percaya, hampir semua penghuni sekolah menampakkan wujud kebahagiaannya atas kita. Dan aku juga baru kali ini merasakan tenar dengan hebohnya kesuka citaan mereka akan hubungan kita. Rasanya kita orang yang nomor satu saat itu.

***Seminggu terlewati dengan indah, kehebohan dari mereka masih terdengar.
Hari-hari juga tak pernah terlewatkan tanpa mu. Aku selalu menulis kegiatan kita setiap harinya. Apa yang kita kerjakan, kemana kita pergi, dan aku juga mengumpulkan kertas kecil bukti pembayaran yang dinilai oleh sebagian orang itu sampah. Namun aku senang dengan kekonyolanku ini.
Kita selalu handalkan angkutan umum sebagai armada yang membawa kita ke tempat-tempat ajaib.
Bagaimana tidak ajaib, semua tempat yang sebelumnya terlihat biasa saja, namun sekarang kau sulap menjadi tempat istimewa berkelas bintang lima.

Inilah kita yang sekarang, kuat bersama tak hiraukan mereka yang menilai buruk tentang kita.

Sedikit Aplikasi pada Mata Kuliah TEKLAB (Konseling Individual)

Jurnal hitam semester ini ku baca lagi setelah lama terletak di singgasananya. Berdebu dan sedikit tampak usang. Masih ingat bagaimana ku menulis sulitnya hari dan padatnya tugas resume yang kejar tayang. Sekarang memang kocak jika dibayangkan, sama halnya dengan kenangan.
Aku mungkin orang paling mahir mengenang kenangan yang terkenang. Jika ada mata kuliah ini di semester depan, 6 SKS pun aku sanggup mengerjakannya. Itulah konyolnya aku.

Salah satu mata kuliah favoritku semester lalu, banyak mengajarkanku akan artinya hidupku.
Ku coba untuk melakukan konseling individual pada diri ku. Dimana aku yang menjadi klien, sekaligus menjadi konselornya. Adanya pemahamanku tentang konseling, ku lewatkan dalam pemberian penstrukturan. Mulai ku jelajahi masalah demi masalah yang ku pikir sudah akut di memory otak. Dengan terbuka dan sukarela ku tuangkan cerita ini. Tak lain tak bukan demi terentaskannya penyakit hati ini.
Memang sudah tak hangat lagi untuk diceritakan tampaknya, namun ini belum ku temukan titik terangnya.
Dengan dorongan minimal, ku lanjutkan cerita. Cerita tentang indahnya masa lalu, indahnya aku di masa itu. Saat satu sosok jelmaan malaikat mengisi hati ku.
Tampaknya aku sangat senang di masa itu, benar sekali isi refleksi perasaannya.
Tapi bagi ku, tak ada hal yang lebih indah selain masa depan.
Tentang konfrontasinya hari ku, aku ingin sekali meraih warna di masa depan, namun aku terjebak di masa lalu, bagaimana itu?
Kemudian hadir suasana diam dalam konseling ku. Seketika hening dan timbulnya pemikiran baru. Aku paham tentang sia-sianya itu semua. Namun apa daya ku? Ini aku! Sekarang, timbul mekanisme pertahanan diri dalam diam ku.
Apa aku tidak pernah berpikir untuk tidak terpaku di masa lalu? Ajakan memikirkan yang lain di hati juga kuat tersirat.
Aku ingin bahagia, benar begitu? Benar, teriakku pada penafsiran ini.
Rumuskan tujuanmu, hidup harus di jabarkan. Akan dibahagiakan atau terus disakiti.
Perasaan sadar seketika muncul saat nasehat pedas menusuk kalbu, bangunkan hati kecil yang terasingkan oleh masa lalu.
Harapku, tetap raih dan kejar esok hari. Mengenai kenangan, sampai saat ini belum ada ilmuan yang mahir menciptakan ramuan untuk melupakannya. Hanya saja kita perlu pembiasaan untuk menjalani hari tanpa kenangan dan jalani hari dengan kontrak yang telah disepakati.

Pekanbaru-Medan Apa Maksudnya?

Belum habis ingatan ku tentang hadir  mu di mimpi ku. Mimpi yang membuat ku sentak merasa tak percaya. Bahkan tak sedikit pun tentang mu yang ku pikirkan lagi.

Cerita awal di mimpi, aku baru saja hendak menempuh perjalanan ke Medan, aku tak tahu pasti apa kegiatan yang akan ku lakukan, dengan banyak karib ku yang juga ikut dalam perjalanan ini..
namun entah apa yang terjadi, pesawat yang kami tumpangi, landing di Pekanbaru dan informasi  terbarunya, kami harus bermalam di kota ini.
Sudah lama rasanya tak mengunjungi kota kenangan, kota yang pernah menjadi saksi bisu kisah kita. Sedikit mengulas masa lalu, engkau sering kali mengunjungi kota ini sebelum engkau menetap selamanya disini. Dan kota ini juga menjadi kota favorit ku, karena ini menjadi alasan ku untuk berlibur sekaligus bertemu dengan mu. Sekarang kota ini semakin padat, mewah dan megah layaknya kota besar.
Saat mengetahui bahwa ku harus bermalam disini, sebelum perjalanan ke Medan dilanjutkan, reflek tangan ini meraih handphone yang telah lama di dalam tas, dan dengan mahirnya ku tekan nomor mu yang sudah tak asing lagi di ingatan ku.
"Aku di cafe  ini, engkau segera kesini ya, aku menunggu mu" dengan tanggapnya kau menjawab "Tunggulah disana, aku akan berangakat setelah laksanakan shalat dulu".
Senang sekali mendengar kata-kata mu, sekarang shalat mu telah menjadi juara. Aku juga ingat bagaimana gerakan shalat mu dulu, dan bagaimana gagahnya saat kau menjadi imam di shalat kita. Namun terkadang sulit bagi mu disiplin melaksanakan shalat, tapi itu dulu, sepertinya sekarang tidak lagi.
Aku memang pemimpi, namun definisi mimpi pun aku tak tahu.
Semalam kau hadir dengan tampan berkaos oblong putih, bersepeda dan rambut mu kelihatan gondrong sekarang.
Kau menyapa dengan ramah, menghampiri dengan canda dan bercerita tentang hari mu tanpa ku.
Kau bahagia benar menyampaikan itu dengan bahasa mu, bahasa yang masih dapat ku cerna dan aku masih hafal akan hal itu. Layaknya kau baru saja lepas dari razia sekolah dulu.
Bukankah kita sudah lama tak berkomunikasi?
Inilah pertanyaan yang belum terjawab di mimpiku. Apa arti hadirnya dirimu di mimpi ku? Apa benar engkau juga sedang dirundung rindu?

Jumat, 21 Juni 2013

Ini Bersambung

Aku tak dapat menentukan judul malam ini, masih sunyi, beku dan tak bersuara.
Tentang hati mu, aku kira itulah dekripsinya.
Dua tahun telah terlewati, aku masih ingat tatapan mu saat pertama bertemu, dan tatapan yang masih sama saat kita terakhir bertemu. Penuh harap dan indah di mata mu.
Tatapan ku yang tak kalah dengan tatapan mu, membuat ini menjadi perekat.

Dua tahun telah terlewati, terlewati dengan diam mu, diam ku, kagum mu, kagum ku dan sesal di antara kita. Sesal yang hadir saat sesosok makhluk hadir mencoba mengisi hati ku. Iba memang hati ini. Saat tahu engkau begitu sakit dalam sesal mu. Namun ini salah siapa? Aku? Kamu? Atau kita?
Aku kira kita yang membuat suasana semakin rumit, rumit dalam jalan ku yang kaku, dan rumit jalan mu yang terhenti.

DIAM (masih)

Banyak ku dengar cerita tentang indahnya cinta, banyak ku lihat wujud indahnya cinta, dan lebih gila dari itu aku rasa kini indahnya cinta juga menghampiri ku.
Entah dari mana asalnya, tak satu pun yang mampu menjawab. Benar sekali yang dikatakan orang akan cinta. Untuk menyatakan definisi cinta pun aku tak yakin menyatakannya. Namun aku tahu apa itu cinta.

Cinta itu seperti kita sekarang bukan?
Masih diam dalam kata.
Masih mengagumi dalam diam.
Masih bisu untuk hari kita.

Bahasa ku memang konyol dan jauh dari logika.
Aku juga paham sulitnya kau mengartikan perasaan.
Tapi aku yakin akan rasa mu yang tersirat itu.


Kamis, 20 Juni 2013

Selamat Pagi Jiwa yang Terabaikan

Mentari telah menampakkan kegagahannya, setelah mendung menemani malam. Pagi ini suara gaduh dari peri-peri kecil masa depan bercerita tentang dewasa mereka nanti. Suara yang familiar ku dengar membangunkan ku dari indahnya alam bawah sadar. Aku masih ingat malam tadi Freud bekerja baik, yang hadirkan sosok penghuni ingatanku.

Sembari tersenyum menatap pagi, ku putar kembali ingatanku tentang kerja Freud tadi malam. Kita bertemu dan hanyut dalam canda yang melebarkan tawa. Kau tampak tampan dan lain dari biasanya. Tidak tahu persis apa yang kita ceritakan, namun ku lihat kemeja putihmu hadirkan ketulusan yang terpendam. Layaknya kau dan aku yang hanya memendam kekaguman, tanpa kata saling berucap.

Cerita mengenai alam bawah sadar, ku ucapkan "Selamat pagi untuk jiwa yang terabaikan".
Seketika kata-kata ini mengundang pertanyaan dan pernyataan yang salah mengenai diriku. Apa benar si galau datang lagi setelah bahagia hadir menyapa? Aku rasa mereka salah, mereka pun tak mengerti dengan kata-kata yang di ujung kalimat awal yang belum ku ucapkan "Aku hadir membawa cinta yang sakti, cinta yang mengalahkan berjuta asa".

Aku rasa, kini engkau masih belum paham akan konyolnya tulisan ku. 
Aku rasa, kini engkau masih belum dapat menafsirkan tulisan ku.
Aku rasa, engkau menilai hati ku konyol.
Aku rasa, engkau juga belum dapat menafsirkan bahasa hati yang tersirat.

Namun kadang terlihat norak dan jauh dari pemikiran sehat, yah beginilah aku. Yang tidak PERRFECT, namun RESPECT. Aku pakai kata-kata mu sebagai pelengkap tulisan ini. 

Ku harap sinyal mu dapat menangkap bahasa hati ku yang tersirat. (ao)

Rabu, 19 Juni 2013

II

Kini engkau paham jalan mu menampakkan cahaya terang, usai nyanyian cinta dilantunkan. Nampaknya sinyal mu juga semakin kuat. Sekuat inginmu inginku menjadi satu.
Bagaimana tidak, kini tak ada tembok baja yang menghalangimu lagi.

Aku ingat itu hari Sabtu, ku lihat lelahnya penantian mu, namun di mata mu ada semangat yang hendak meledak. Entah sinyal apalagi itu. Sepertinya cinta yang sering banyak orang katakan. Yah aku pikir begitu.

Siang hari Sabtu, setelah lelahnya engkau menanti sekian juta detik akan hari ini, kita dapat bertemu dan memutuskan untuk menikmati hari ini. Tanpa memikirkan apa judul dari hubungan kita nantinya.

Kita memutuskan ke tempat pertama kita bertemu dengan seseorang yang sama-sama kita kenal lewat jejaring sosial. Namun hari itu kita tak tampak canggung seperti hari seblumnya. Kita layaknya Romeo dan Juliet yang menikmati harinya. tanpa acuhkan mereka yang berlalu.

Betapa senangnya kita, saat memasuki tempat indah itu. Semua mata memandang ke arah kita sembari melepaskan senyum bahagia.

Kita memilih bangku di pojokan kanan, kursinya putih seperti kasih kita. Dengan duduk bersebelahan dan tatapan yang tak terpalingkan, tawa canda mengisi hari indah ini, dan sampai akhirnya kita memutuskan judul untuk hubungan kita.

Dan bersiap memulai hari-hari dengan penuh kasih dan kerikil kecil sebagai perekat kita.
Terima kasih untuk hari indah, dan selamat menikmati hari kita sayang :)

Hadirkan kembali Kapten untuk Kapal Kita~

Kembali ku putar memori otak ku untuk mengenang mu. Mengenang kembali kisah yang lalu, kisah manis kau dan aku, kisah yang kini menjadi kenangan yang juara di memory otak ku.

Ku hadirkan kembali cerita lalu, cerita tentang kapten kecil yang bernama hati, dan berlayar lama di lautan kita. Yang pada akhirnya kapten ini pun mundur. Namun tahu kah kau, kapal kita tetap ada dan tidak pernah karam, kini ku namakan itu kenangan.

Kapal kita kini tak seindah dan setangguh dulu yang dapat berlayar di luasnya lautan tak hiraukan angin kencang bahkan badai sekali pun, namun asrinya kini hanya tinggal nama. Saat kau inginkan kapten kecil ini tinggalkan kapal kita. Kau bahkan tak mencari pengganti untuk terus melayarkan kapal kita. Kau putuskan untuk meninggalkan kapal dan menyerahkan padaku.

Apa kuasa ku? Untuk mengemudikan kapal ini pun aku tak mampu sendiri. Aku yang sampai saat ini masih berada dalam kapal, menanti hadir mu untuk kembali menggenggam tangan ini dan bersama memutar laju kapal yang kini tak tentu lagi kemana arahnya,  namun tak pernah kau kembali hadir untuk mengambil kemudi kapal ini.

Kini kapal kita memang belum karam, namun apakah kau yakin ini akan utuh selamanya. Utuh berkarat dan menjadi tumpangan laba-laba yang menghiasi dinding kapal kita. Aku tak yakin akan hal itu.

Suatu saat nanti, kapal ini akan karam. Karam bersama ku yang menanti hadirmu untuk melajukan kapal kita.

What a crazy!!

Mereka bilang aku bijak, mereka bilang aku dewasa, mereka bilang aku bahagia, dan itu mereka bilang.
Entah dari sisi mana mereka melihat itu semua. Apa aku yang terlalu ahli dalam menyembunyikan itu. Membungkus rapat semua keburukan yang justru pada akhirnya membuat ku rapuh. Rapuh dengan kuatnya khayal ku padamu. Rapuh dengan besarnya ingin ku padamu. Rapuh dengan tingginya obsesi ku padamu.
Ku kira engkau manusia tangguh yang selalu bisa membangun benteng pertahanan dengan kuat, yang tak mampu ku luluhkan dengan daya ku.

Aneh memang hidup ku, aku yang dapat bertahan menjalani kesemuan ini tanpa jengah akan prilaku mu.

RINDU AJAIB

Aku tidak tahu pasti definisi rindu. Aku rasa itu bentuk dari kinginan yang harus segera dicapai. Aku juga tidak tahu pasti mengenai dampak dari rindu. Namun ku banyak melihat lingkungan ku yang bertingkah laku ajaib untuk mewujudkannya.

Aku rasa kini ku juga dirundung rindu, rindu kelabu akan sosok makhluk ciptaanNya yang telah lama tak ku temui. Dan aku juga telah melakukan hal yang ajaib untuk mewujudkannya, namun belum ku temukan titik dari puncak kerinduanku, bertemu denganmu itu pintaku.

Engkau mungkin takkan sadar apa yang telah dilakukuan oleh orang yang merindukan mu, mereka rela menghabiskan waktunya untuk memikirkan, membayangkan sosok ilusi itu. Tak peduli seberapa lama waktu yang mereka habiskan.

Begitu pun aku, engkau kira aku menulis ini untuk apa lagi selain untuk ungkapkan rindu ini.


(BUKAN) Perahu Kertas

Penggalan dialog pada "Perahu Kertas" menyatakan bahwa cinta itu dipilih, bukan memilih. Benar memang, kita tidak dapat memaksakan cinta, kita dapat saja memilih, namun tanpa dipilih, cinta tersebut takkan jadi satu. Kita dapat saja memaksakannya, namun apa itu masih dapat dikatakan cinta.

Masih cerita tentang "Perahu Kertas", aku masih ingat mengenai cerita hidup mu yang sama seperti "Keenan", memilih kuliah atas pilihan orangtua, namun sesungguhnya engkau suka melukis. Aku ingat dulu engkau sering keluhkan ini padaku, sebelum engkau jauh memantapkan pada pilihan orangtua mu. Berat memang jalan yang kau tempuh dengan kepura-puraan mu. Parasmu yang tak jauh kalah tampan dari "Keenan" membuat ku selalu membayangkan mu saat menonton kembali perahu kertas.

Sekarang aku merasa, cerita kita seperti layaknya "Perahu Kertas" engkau tahu?
Dari dulu aku ingin sekali menulis cerita tentang kita, dan dulu aku ingin sekali menjadi penulis handal layaknya "Kugy", memang aku tak sehandal itu, namun untuk menulis kembali kenangan, ingatanku masih cukup baik untuk mengingatnya.

Dan masih pada cerita "Perahu Kertas" aku ingat kata-kata ini saat "Keenan" tak menemukan ide untuk melukis, "kamu harus memiliki satu bintang sebagai sumber inspirasinya" tidak sama persis memang kata-katanya, namun begitulah intinya. Kata-kata ini yang membuatku selalu ingin dan ingin untuk menulis cerita kita, karena menurutku engkau inspirasi yang tepat buat ku.

Kembali pada "cinta itu dipilih, bukan memilih" kali ini hilang semua daya ku untuk memilih, tanpa ada sambutan untuk dipilih. Ku rasa radar ku kurang kuat untuk menemukanmu sekarang.  Namun besar harapanku, cerita kita akan benar-benar berakhir seperti layaknya "Perahu Kertas".

Anggap saja kini engkau dan aku sama-sama sedang mencari jati diri, namun pada akhirnya kita kan dipertemukan kembali dengan radar kita yang akan bekerja baik.

Sabtu, 15 Juni 2013

I

Dulu, aku ingin menulis cerita tentang kita.
Tentang kita yang bahagia menikmati hari, bahagia menikmati kebersamaan, dan bahagia menikmati hari bersama mu. Itu pinta ku.

Engkau tahu, kita dipertemukan dengan kejadian yang kau bilang itu 'konyol', lewat sms 'send all' aku ingat itu.
Dan kemudian berlanjut saling mengagumi dalam diam, namun selalu menunjukkan tanda yang tak biasa. Hingga akhirnya aku makin merasakan tanda itu, dan kau juga begitu bukan?
Namun tak mudah jalan kita untuk meraih kebersamaan.

Engkau hampir saja menyerah dan lelah dengan waktu yang terus berjalan. Berjalan tanpa henti seakan tak acuhkan hadir mu. Namun aku yakin kau tangguh dalam hal itu.

Ku tak akan bisa, Ku tak akan bisa
Menjauh dari mu sepanjang hidup ku ooo ooo
Ini lagu, mewakili perasaan ku saat itu

Dan engkau membalas dengan...
Meski tak seindah yang kau mau
Tak sesempurna cinta yang semestinya
Namun aku mencintai mu
Sungguh mencintai mu....

Ini soundtrack cerita cinta kita di mulai.